Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Indonesia merupakan rumah dari ribuan suku bangsa yang beragam pula adat istiadat, budaya, bahasa dan keyakinannya. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, setidaknya ada sekitar 1.340 suku bangsa tersebar dari mulai Sabang hingga Merauke. Keragaman tersebut merupakan aset penting dan tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia.

Namun sayangnya aset penting tersebut dari hari ke hari kondisinya semakin mengkhawatirkan. Sebagai contoh berdasarkan data Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada 11 bahasa daerah yang menyandang status punah, sedangkan puluhan lainnya terancam punah.

Selain bahasa daerah, banyak warisan budaya lainnya yang mengalami hal yang sama, salah satunya adalah silat. Saat bangsa lain getol mempelajari dan mengembangkan seni bela diri asli bangsa Indonesia, justru generasi muda kita malah terlena dengan hingar bingar kemajuan teknologi. Jika pun belajar bela diri, kebanyakan dari mereka lebih memilih bela diri impor karena dianggap lebih keren dan bergengsi. Hal itu memang tidak salah, namun jika hal itu terus terjadi maka jangan heran jika banyak budaya kita yang diklaim bangsa lain.

Berawal dari keprihatinan tersebut, SMK YASIRA Cijeungjing membuat program pengenalan dan menananmkan kecintaan pada budaya lokal pada para anak didiknya secara berkelanjutan. Salah satu dari program itu adalah kegiatan ekastra kurikuler Pencak Silat Satria Muda Indonesia yang dibentuk pada Oktober 2017.

Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia (SMI) sendiri merupakan salah satu dari perguruan pencak silat besar yang ada di Indonesia yang berdiri pada tanggal 19 Juli 1987 di Lembah Pinus Ciloto Jawa barat. SMI juga merupakan wadah resmi dari silat-silat tradisional asal Sumatera Barat, Jawa Barat, dan DKI Jakarta seperti Silek Tuo, Harimau Singgalang, Cimande, Cikalong, Sabandar, Beksi, Silou Macan dan lain sebagainya. Diketahui 3 daerah itu merupakan cikal bakal atau akar dari seluruh perguruan silat yang ada di Indonesia.

Yaya Sunarya, S.Pd., pelatih silat sekaligus guru di SMK YASIRA yang beralamat di Pamalayan Cijeungjing Ciamis itu mengatakan bahwa silat khususnya SMI kaya dengan filosofi yang erat dengan nilai-nilai agama Islam, tentunya hal itu sangat cocok dengan karakteristik bangsa Indonesia khususnya Ciamis yang dikenal agamis. Dengan menanamkan filosofi yang adi luhung itu, dia berharap anak didiknya memiliki karakter yang kuat yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan keindonesiaan.

Disamping itu, pria kelahiran Cipaku 17 Pebruari 1988 ini berharap agar anak didiknya bisa berprestasi di masa yang akan datang, namun tentunya hal itu memerlukan proses panjang yang tak semudah membalikan telapak tangan.

Adapun jadwal latihan ekskul silat itu dua kali dalam seminggu, setiap hari Senin dan Sabtu jam 14.00 WIB. Respon anak didik SMK YASIRA cukup baik, bahkan peserta ekskul itu ada yang berasal dari luar SMK YASIRA seperti dari SMK Taruna Bangsa dan MTs Al Isthakhariyyah.

Terakhir, Yaya juga menginformasikan bahwa tahun ini SMK YASIRA menerima siswa baru tanpa dipungut biaya uang bangunan dan SPP selama 3 tahun alias gratis, adapun program keahliannya adalah Tata Busana dan Perbankan Syariah. Hal ini tentunya kesempatan baik bagi anak-anak lulusan SLTA yang mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi terutama yang memiliki keterbatasan ekonomi.

(Yaya Sunarya) GALUH ID

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.