Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tania Alivia (18) mengaku tidak menyukai sepak bola sama sekali ketika pertama kali diajak teman-temannya menonton sepak bola langsung di Stadion Galuh Ciamis, “awalnya takut, banyak orang teriak-teriak dan pada nyanyi-nyanyi,” katanya. Tetapi siapa sangka berkali-kali menonton sepak bola membuatnya jatuh cinta pada olahraga yang identik dengan olahraga laki-laki ini. Berbagai kota sudah disambangi Tania bersama teman-temannya di komunitas Balad Galuh dalam rangka mengawal PSGC. Sebut saja, Semarang, Jepara, dan terakhir Madiun. “Paling jauh itu ke Madiun ketika PSGC masuk play off, itu away terakhir dan paling tidak bisa dilupakan,” tutur Tania. PSGC yang saat itu bertanding melawan Perserang harus menelan kekalahan dan terdegradasi ke liga 3.

Lain lagi dengan Lina Herlina (25), Lina yang tomboy memang menyukai sepak bola sejak awal, pertandingan PSIS VS PSGC Ciamis tahun 2016 di Stadion Galuh Ciamis adalah laga pertama yang ditonton Lina langsung di stadion. “Saya langsung jatuh cinta karena orang-orangnya pada baik dan menyambut dengan ramah, sekarang sih sudah seperti keluarga,” terang Lina. Lina yang ramah bahkan dikenal oleh para pemain PSGC.

Metha Andriani (28) punya kisah yang lain, ia bersama suaminya, Deni Kurniawan, tidak pernah absen menonton setiap pertandingan PSGC di Stadion Galuh Ciamis bahkan ketika PSGC bertanding di luar kota pun Metha dan Deni setia mengawal. Sementara itu, Ade Juju (24) menunjukkan kecintaannya pada PSGC Ciamis dengan memotong rambutnya sebelah kepala dan mengukirnya dengan kata PSGC.

Masih banyak pengalaman penuh loyalitas perempuan-perempuan pendukung PSGC yang menamai diri mereka dengan Wanoja Galuh ini. Menurut keterangan Triana Megandara, salah satu suporter yang mendeklarasikan Balad Galuh, pernah ada juga suporter perempuan yang menjadi dirijen memimpin koreo dan nyanyian suporter di stadion. Sayang sekali sampai artikel ini ditulis, Galuh ID belum berhasil menemui perempuan legendaris tersebut.

Anda mungkin heran dengan kecintaan perempuan pada sepak bola, terutama pada klub sepak bola yang mereka dukung, bukankah sepak bola identik dengan olahraga laki-laki? Bagi laki-laki menonton sepak bola terkadang karena didorong ingin melihat gol-gol indah yang tercipta di sebuah pertandingan. Bagi perempuan menonton sepak bola lebih dari itu, perempuan menonton sepak bola tidak sekedar ingin menonton pemain sepak bola tampan yang jungkir balik mengejar bola lengkap dengan tetes-tetes keringatnya yang seksi.

Perempuan melihat pemandangan indah dalam sepak bola, sebut saja para suporter yang bernyanyi dan berteriak sepanjang pertandingan, daya juang dan sportivitas para pemain sepak bola yang menarik untuk diperhatikan, termasuk detail-detail kecil yang luput dari perhatian para pria, dalam hal PSGC Ciamis misalnya, papan skor manual di Stadion Galuh Ciamis yang selalu dijaga oleh orang tua eksentrik lengkap dengan jenggot dan rambut gondrongnya.

Gol yang dicetak para pemain PSGC Ciamis tentu penting bagi para perempuan dalam Wanoja Galuh, tetapi ada begitu banyak alasan untuk mencintai PSGC Ciamis, walaupun sering cinta itu berbuah kekecewaan seperti dialami Tania Alivia yang mengawal PSGC Ciamis sampai ke Madiun. Terkadang mencintai PSGC Ciamis itu seperti antitesis dari susahnya mencintai manusia. Anda bisa menyerah ketika mencintai kekasih Anda, tapi tidak ketika Anda mencintai klub sepak bola, Anda bisa dikecewakan berkali-kali, PSGC bisa kalah atau terjerembab ke Liga 3, tapi sanggupkah Anda berpindah ke lain klub?

“Kapan PSGC Ciamis uji coba dengan tim yang sekelas dan satu level dengan PSGC? Kami rindu bernyanyi dan berteriak mendukung tim kebanggaan kami.” Ungkap salah satu pentolan Wanoja Galuh yang enggan disebut namanya.

(K. Putu Latief ) GALUH ID

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.