Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

CIAMIS – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei mereka terkait elektabilitas Pilkada Ciamis pada hari Minggu (14/5/2018). Hasilnya pasangan nomor urut 1, Herdiat Yana dinilai unggul 52,3% dibanding pasangan incumbent, Iing Oih yang hanya mendapat 35,7%, sementara 12% sisanya tidak menjawab atau tidak tahu. Perdebatan hasil survei pun merebak diantara para pendukung kedua kubu. Pendukung HY tentu sumringah dengan hasil survei yang memenangkan calon bupati yang didukungnya, sementara pendukung Iing Oih membantah hasil survei tersebut dengan berbagai opini.

Pernyataan Ketua Tim Pemenangan Iing Syam Arifien-Oih Burhanuddin, Arief Chowas Ismail kemudian menjadi sorotan. Sebagai pendukung Iing-Oih dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dia menyatakan bahwa menurut hasil survei yang dilakukan oleh kubu beliau, Iing-Oih justru unggul 67% dibanding pasangan HY. Sayangnya, Arief tidak menjelaskan lebih lanjut tentang metode dan lembaga yang melakukan survei tersebut. Karena survei yang dilakukan secara internal ini dinilai Arief sebagai bahan evaluasi untuk tim-nya, sehingga tidak dipublikasikan ke khalayak. Arief kemudian menganggap jika rilis survei LSI hanya sebagai manuver politik tim lawan.

Hal ini kemudian menjadi bulan-bulanan pendukung HY, di media sosial para pendukung HY menyoroti pernyataan tersebut dan menjadikannya lelucon dengan menyebut: Survei LSI yang dinilai sebagai survei yang dapat dipercaya versus “Survei Moal Bejaan” yang karena tidak disebutkan lembaga survei-nya kemudian dinilai sebagai survei yang tidak bisa dipercaya.

Pernyataan Arif Chowas Ismail kemudian didukung oleh Wakil Ketua Tim Pemenangan pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Ciamis, Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin, Kuncoro Jati Suroso, menurutnya hasil survei tidak selalu mencerminkan hasil perhitungan suara yang riil. Ia kemudian memberi contoh dengan hasil survei Pilkada DKI tahun 2012, pada saat itu pasangan Foke-Nara diunggulkan dalam survei, tetapi pada saat penghitungan suara usai pemilihan berlangsung, pasangan Jokowi-Ahok juatru memenangkan Pilkada DKI tahun 2012 tersebut. Kuncoro juga menyebutkan jika wajar apabila LSI memenangkan pasangan HY dalam survei-nya karena selama ini LSI juga dikenal sebagai konsultan politik pasangan HY.

Pernyataan Kubu Iing-Oih ini kemudian dikomentari oleh Mamat Rahmat, Ketua Tim Pemenangan HY, menurutnya, jika kubu Iing-Oih tidak percaya hasil survei LSI seharusnya mereka menyangkal survei LSI dengan data survei yang setara sebagai perbandingan, bukan hanya membantah dengan opini.

Memang ada kecenderungan terjadi framing yang ditujukan dengan rilis survei dalam gelaran Pilkada atau pemilihan umum lainnya, ada kalanya survei yang dilakukan oleh salah satu kubu dalam Pilkada atau pemilihan umum lainnya tidak melulu menjadi tolak ukur untuk menilai sejauh mana partisipasi masyarakat dalam memilih satu kandidat. Survei justru digunakan sebagai salah satu alat kampanye. Survei dianggap sebagai bagian dari hipnotis visual, dimana angka-angka yang memenangkan satu kubu dalam survei diharapkan mampu mempengaruhi para pemilih untuk memilih kubu yang diunggulkan dalam survei.

Namun, meragukan survei yang dilakukan dengan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan juga adalah kekeliruan. Sebuah lembaga survei yang bisa dipercaya tentu tidak akan merilis survei yang serampangan, karena di sini nama lembaga yang dipertaruhkan. Alih-alih beropini di media dengan meragukan hasil survei LSI, kubu Iing-Oih sebaiknya melihat hasil survei dengan kacamata ilmiah.

Ketepatan survei atau sejauh mana survei tersebut sesuai dengan kondisi riil di lapangan dapat dilihat dari metode yang digunakan. Survei LSI terkait elektabilitas Pilkada Ciamis sendiri menggunakan metode Multi Stage Random Sampling. Pada multistage random sampling, pengambilan sampel dilakukan secara bertingkat.

Misalnya, pada survei elektabilitas Kabupaten Ciamis pada tahap pertama sampel diambil dari tingkat kecamatan. Lalu pada tahap selanjutnya, sampel diambil dari tingkat di bawahnya, yaitu tingkat desa. Begitu seterusnya hingga tingkat terkecil dan jumlah sampel telah memenuhi ukurannya. Sampel yang diambil secara bertingkat ini diharapkan dapat mewakili populasi pemilih dalam satu kabupaten.

Jangan lupa juga, ada margin of error untuk mengetahui sejauh mana sampel dalam mewakili populasi. Pada persentase margin of error dapat dilihat gambaran kesalahan yang biasa terjadi pada pengambilan sampel dalam survei yang dilakukan oleh peneliti. Dalam hal ini, perlu diketahui jika semakin kecil persentase margin of error, maka semakin dekat suatu sampel dalam mewakili populasi sesungguhnya.

Persentase margin of error pada survei LSI terkait elektabilitas Pilkada Ciamis 2018 sendiri sebesar 4,8% dari total 440 responden. Margin of error sebesar 4,8% ditambah adanya responden yang belum menentukan pilihannya sebesar 12%, bisa dijadikan bahan masukan untuk pasangan Iing-Oih, misalnya bagaimana caranya agar 12% suara pemilih yang belum menentukan pilihannya itu bisa menjatuhkan pilihannya pada pasangan nomor urut 2 ini.

(K. Putu Latief) Galuh ID

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
 
 
"menulis untuk kebahagiaan dan mengedit untuk kepuasan"

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini