Ciamis, galuh.id – Jamasan Jambansari, tradisi membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Galuh digelar pada Rabu (5/12/2018). Tradisi ini digelar setiap bulan Maulid atau bulan Rabiul Awal sejak tahun 2017.

Benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Galuh yang disimpan di Museum Galuh Pakuan (Pendopo Selagangga) di Jalan K.H Ahmad Dahlan, Kecamatan Ciamis ini diarak oleh para Keturunan Kerajaan Galuh dari Museum ke Jambansari.

BACA JUGA!

Sebelum prosesi Jamasan dimulai, semua Keturunan Kerajaan Galuh menggelar doa bersama di Makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat Bupati Ciamis ke-16 yang memerintah dari tahun 1839-1886. Setelah itu, barulah benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Galuh itu dibersihkan. Pada Jamasan kali ini hanya 7 benda pusaka inti yang dibersihkan.

“Dari total 150 benda pusakan kami hanya mengambil 7 pusaka inti yang dibersihkan,” kata Raden H. Rasich Hanif Radinal yang beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai Raja Galuh.

Ketujuh benda pusaka tersebut satu persatu dibersihkan oleh petugas dengan air yang diambil dari 9 sumber mata air, yaitu dari Air Salawe, Air Pulau Majeti, Air Panjalu, Air Gunung Padang, Air Karang Kamulyan, Air Putrapingan, Air Imbanagara dan Air Jambansari. Setelah selesai dibersihkan, ketujuh benda pusaka tersebut disimpan kembali di Museum Galuh Pakuan di Selagangga.

Hanif menerangkan bahwa tradisi Jamasan merupakan bentuk penghormatan untuk memelihara peninggalan leluhur agar tidak dilupakan.

“Budaya adalah jati diri bangsa dan budaya sebagai aset bangsa yang mesti kita pelihara karena budaya yang mempersatukan bangsa,” tegasnya.

Dari pantauan Galuh.id pada saat Jamasan Jambansari digelar tampak hadir perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Budayawan dan warga sekitar yang ikut mengikuti acara tersebut.

(Arul)

 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini