Ciamis, galuh.id — Bidang Pemberdayaan Perempuan PGRI Kabupaten Ciamis secara resmi meluncurkan buku berjudul Perempuan-Perempuan Tangguh, Sabtu (03/01/2025).
Kegiatan ini berlangsung di Gedung PGRI Ciamis dan dirangkaikan dengan peringatan Hari Ibu Tahun 2025 serta Masa Bakti XXIII PGRI Tahun 2025–2030.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan PGRI Ciamis, Euis Cucu Sukmanah, menyampaikan bahwa buku tersebut merupakan hasil karya 64 penulis perempuan yang tergabung dalam PGRI.
Buku tersebut tersaji dalam bentuk antologi puisi dan cerpen yang ditulis oleh para guru, pengawas sekolah, kepala sekolah, hingga unsur Dinas Pendidikan.
“Proses pengumpulan karya secara terbuka tanpa seleksi ketat. Kami mendorong seluruh segmen pemberdayaan perempuan di setiap cabang kecamatan untuk berpartisipasi. Dan mengajak guru-guru perempuan lainnya sesuai minat dan kemampuannya,” ujar Euis.
Ia menjelaskan, setiap penulis mendapat kebebasan untuk mengirimkan satu atau lebih karya puisi maupun cerpen, selama sesuai dengan tema besar, yakni Peran Guru Perempuan dalam Pendidikan.
Seluruh karya tersebut kemudian terhimpun dalam satu buku tanpa pemisahan kategori.
Menurut Euis, proses penyusunan buku berlangsung sejak April hingga Desember 2025. Karena melibatkan banyak penulis serta memerlukan pendampingan dan arahan dalam proses penulisan.
“Meskipun memakan waktu cukup lama, lahirnya 64 penulis perempuan merupakan pencapaian yang luar biasa bagi PGRI Kabupaten Ciamis,” katanya.
Euis menambahkan, buku ini menjadi pionir di lingkungan PGRI Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Ciamis. Ke depan, harapan program serupa dapat terus berlanjut sesuai dengan situasi dan kebijakan organisasi.
Puisi dalam Buku Perempuan-perempuan Tangguh
Pada tahap awal, buku Perempuan-Perempuan Tangguh dicetak sebanyak 104 eksemplar dan dapat dibeli oleh para penulis maupun masyarakat umum. Pencetakan ulang akan lakukan apabila permintaan meningkat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap potensi dan kreativitas guru perempuan terus tergali. Sekaligus mendukung pengembangan budaya literasi di lingkungan PGRI dan masyarakat luas,” ujar Euis.
Puisi dan cerpen, lanjutnya, menjadi media untuk meningkatkan kemampuan literasi guru, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan kecintaan membaca dan bersastra di kalangan peserta didik.
Sementara itu, salah satu penulis puisi dalam buku, Ely Mulyaningsih, mengungkapkan bahwa karyanya menggambarkan sosok perempuan dari berbagai sudut pandang, khususnya perspektif seorang ibu.
Puisi berjudul Buih dan Kaldu lahir dari pengalaman keseharian sebagai seorang ibu yang harus mengurus anak sekaligus menjalani pekerjaan di luar rumah.
“Puisi ini terinspirasi dari aktivitas memasak. Pekerjaan seorang ibu seolah tidak pernah selesai. Pagi memasak, kemudian berangkat bekerja, lalu kembali lagi ke rumah dengan peran yang terus berganti,” tutur Ely.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan fleksibilitas dan ketangguhan perempuan dalam menjalani berbagai peran di ruang dan waktu yang berbeda.
Ely mengaku sempat ragu untuk kembali menulis puisi karena sudah lama tidak berkarya. Namun, di tengah kesibukan sehari-hari, inspirasi justru hadir dan mendorongnya kembali menulis.
Ia menilai, esensi buku Perempuan-Perempuan Tangguh adalah menggambarkan kehidupan perempuan yang dituntut untuk selalu kuat, kapan pun dan di mana pun.
Setiap penulis menuangkan pengalaman dan perasaan masing-masing, karena puisi pada dasarnya lahir dari kehidupan dan rasa yang dekat dengan penulisnya.
“Tidak ada ibu atau emak-emak yang tidak tangguh. Ketangguhan itulah yang ingin kami sampaikan melalui karya-karya dalam buku ini. Dengan harapan dapat diterima dan rasakan oleh para pembaca,” pungkasnya. (GaluhID/Tegar)
Editor: Evi
