Ciamis, galuh.id – DPRD Ciamis menilai BUMDesma (Badan Usaha Milik Desa Bersama) Buana Kawasen Banjarsari berada dalam kondisi tidak sehat. Tingkat kemacetan pengembalian pinjaman di lembaga tersebut mencapai 38 persen.
Ketua Komisi A DPRD Ciamis, Yoyo Wahyono, menyampaikan keprihatinannya dan menilai perlu adanya koreksi bersama agar BUMDesma kembali berjalan optimal. Temuan tersebut terungkap saat Komisi A melakukan monitoring di Aula Kecamatan Banjarsari, Rabu (3/12/2025).
Kegiatan monitoring diikuti Direktur BUMDesma, Camat Banjarsari, serta Ketua APDESI Kecamatan Banjarsari.
Yoyo berharap melalui monitoring dan diskusi, BUMDesma Buana Kawasen dapat kembali sehat sehingga manfaatnya benar-benar terasa oleh masyarakat.
Menurutnya, monitoring di lakukan untuk memastikan pengelolaan dana negara berjalan aman dan tidak disalahgunakan.
Ia menjelaskan, sebelum transformasi dari UPK (Unit Pelaksana Kegiatan) menjadi BUMDesma, lembaga tersebut memiliki aset sebesar Rp900 juta.
Setelah transformasi pada 2022, seluruh desa di Kecamatan Banjarsari seharusnya memberikan penyertaan modal Rp5 juta per desa.
“Dari 12 desa, hanya 11 yang memberikan penyertaan modal. Total aset BUMDesma Buana Kawasen saat ini sebesar Rp955 juta,” jelasnya.
Namun, penyertaan modal Rp55 juta tersebut hingga kini belum di manfaatkan sebagai modal usaha.
“Uang itu masih mengendap di rekening BUMDesma. Sayang sekali, kenapa tidak gunakan untuk mengembangkan unit usaha lain,” ujar Yoyo.
DPRD Dorong BUMDesma Buana Berinovasi
Ia mendorong BUMDesma untuk berinovasi dan tidak hanya bergantung pada unit usaha simpan pinjam.
“Kami berharap BUMDesma tidak terpaku pada satu jenis usaha, tetapi mencari peluang usaha lainnya,” katanya.
Sementara itu, Direktur BUMDesma Buana Kawasen, Agus Betay, mengakui bahwa tingkat kemacetan mencapai 38 persen.
Menurutnya, kemacetan tersebut sudah terjadi sejak lama, bahkan sejak era PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat).
“Penyebabnya adalah karakter sebagian masyarakat yang berani meminjam tetapi tidak mau membayar. Selain itu kondisi ekonomi mereka juga sedang terpuruk,” ujarnya.
Agus mengatakan berbagai upaya sudah pihaknya tempuh untuk menarik kembali dana pinjaman, termasuk melibatkan aparat kepolisian.
“Waktu melibatkan polisi sempat berhasil, tetapi hanya sementara. Setelah itu kembali sulit,” katanya.
Peminjam bukan hanya individu, melainkan juga kelompok masyarakat. Pada akhir 2023, BUMDesma Buana Kawasen kembali menerima penyertaan modal sebesar Rp55 juta.
Awalnya, dana tersebut rencananya untuk membuka unit usaha pelayanan pajak kendaraan pada 2024.
“Namun setelah kami lakukan studi banding, usaha tersebut tidak prospektif. Akhirnya pada 2025, penyertaan modal itu kami alokasikan kembali untuk usaha pinjaman. Jadi dana tersebut mengendap hanya satu tahun,” pungkasnya. (GaluhID/Uus)
Editor: Evi
