Ciamis, galuh.id – Program Kampung Keluarga Berkualitas (KB) di Kabupaten Ciamis mengusung delapan program lintas sektor yang terintegrasi untuk mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Tidak hanya terbatas pada isu kontrasepsi atau pengendalian kelahiran semata.
Hal tersebut disampaikan Djafar Shiddiq, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Penyuluhan, dan Penggerakan DP2KBP3A Ciamis, Jumat (23/13/2026).
Ia menjelaskan bahwa Kampung Keluarga Berkualitas memiliki delapan program utama yang terintegrasi lintas instansi.
“Peningkatan kualitas hidup masyarakat tidak bisa hanya melihat dari satu sisi. Ada delapan program penunjang dalam Kampung Keluarga Berkualitas,” ujarnya.
Delapan program tersebut mulai dari penyediaan data dan dokumen, perubahan perilaku hidup sehat melalui Germas, penanganan stunting.
Selain itu pelayanan kesehatan reproduksi, layanan pendidikan, jaminan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan kualitas lingkungan.
Ia menegaskan, program Keluarga Berencana hanya salah satu bagian dari program integrasi dan konvergensi di Kampung Keluarga Berkualitas.
Fokus utamanya adalah membangun keluarga yang sehat, sejahtera, mandiri, serta memiliki lingkungan yang baik.
“Kampung KB di sini bukan hanya soal kontrasepsi. KB adalah bagian kecil dari upaya besar membangun keluarga berkualitas dari berbagai aspek kehidupan,” ucapnya.
Menurutnya, setiap Kampung KB di Ciamis memiliki program unggulan berbeda, menyesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing.
Salah satunya adalah Kampung KB Maggot di Desa Pawindan, Kecamatan Ciamis, yang unggul dalam pengelolaan sampah berbasis budidaya maggot.
Sampah organik bermanfaat sebagai pakan larva lalat (maggot) yang kemudian diolah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi.
Program Kampung KB pada Sektor Pertanian
Sementara itu, Kampung KB Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku mengembangkan perekonomian masyarakat berbasis sektor pertanian dan kerajinan batik.
Di wilayah lain seperti Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, masyarakat mengembangkan pemanfaatan pekarangan melalui budidaya pisang.
Hasil penjualan pisang dikelola bersama, bahkan sebagian manfaatkan untuk membantu pembayaran kewajiban seperti pajak.
“Jadi unggulan Kampung KB tidak sama. Semua tergantung potensi wilayahnya. Karena ini program keluarga berkualitas, bukan sekadar keluarga berencana,” terang Djafar.
Seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Ciamis yang berjumlah 256 desa telah menjadi Kampung KB. Pendampingan rutin oleh Petugas Lapangan Keluarga Berkualitas (PLKB) yang tersebar di tiap kecamatan.
“PLKB menjadi ujung tombak pembinaan di lapangan. Mereka ada yang memegang dua sampai tiga desa dan rutin melakukan pendampingan,” kata Djafar.
Dampak yang paling terasa dari program ini, lanjutnya, adalah tumbuhnya kembali semangat gotong royong masyarakat.
Keberhasilan Kampung Keluarga Berkualitas sangat bergantung pada partisipasi aktif warga serta dukungan lintas sektor dari berbagai dinas.
Tidak hanya satu dinas, tetapi perlu intervensi program dinas dan lintas sektor lainnya.
Dinas kesehatan bergerak di bidang kesehatan, dinas sosial pada jaminan sosial, dinas terkait ekonomi pada pemberdayaan usaha, dan seterusnya.
“Harapan, integrasi dan konvergensi lintas sektor bisa benar-benar terwujud,” tegas Djafar.
Salah satu kendala utama adalah masih kuatnya anggapan bahwa KB hanya berkaitan dengan perempuan dan kontrasepsi.
“Ini yang terus kami luruskan. Kampung KB itu keluarga berkualitas, menyasar seluruh anggota keluarga dan seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.
Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan, terlebih dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran pada 2026.
Namun ia berharap dukungan dari pemerintah desa dan partisipasi masyarakat dapat membantu menguatkan pelaksanaan program.
Djafar mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat aktif dalam program Kampung Keluarga Berkualitas.
“Kalau masyarakat ikut bergerak dan lintas sektor ikut memfasilitasi, Insyaallah peningkatan kualitas hidup akan semakin terlihat. Karena keluarga berkualitas dibangun bersama, tidak bisa sendiri,” pungkasnya. (GaluhID/Tegar)
Editor: Evi
