CIAMIS, galuh.id – Pasini Farm Naratas Group di Kabupaten Ciamis telah mengantongi sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) Level 1. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu indikator pemenuhan standar higiene dan sanitasi dalam pengelolaan usaha produk hewan sekaligus membuka peluang bagi perusahaan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis, Dr. Anton Wahyu Radityananto, M.Si., mengapresiasi pencapaian tersebut saat menghadiri syukuran pembukaan kandang layer kedua Pasini Farm di Layer Farm Linggasari, Kabupaten Ciamis, Rabu (7/10/2026).
Menurut Anton, kepemilikan NKV menunjukkan bahwa unit usaha telah memenuhi persyaratan sesuai hasil penilaian dan ruang lingkup sertifikasinya. Pemenuhan standar tersebut juga menjadi modal bagi perusahaan untuk mempersiapkan diri memasuki pasar ekspor.
“Pasini Farm ini sudah mengantongi NKV Level 1, jadi sudah bisa ekspor, hanya saja belum dilakukan,” ujarnya (12/10/2026).
Meski demikian, Anton menjelaskan bahwa sertifikasi bukan satu-satunya faktor penentu ekspor. Kesiapan perusahaan, pemenuhan persyaratan negara tujuan, serta peluang pasar tetap menjadi pertimbangan dalam merealisasikan kegiatan tersebut.
Anton menjelaskan, untuk memperoleh sertifikat NKV, unit usaha harus melalui pemeriksaan dan penilaian terhadap pemenuhan persyaratan yang berlaku. Aspek yang diperhatikan antara lain higiene dan sanitasi, pengelolaan peternakan, kesehatan ternak, serta keamanan produk hewan sesuai jenis usaha yang disertifikasi.
Sertifikat NKV diterbitkan oleh pemerintah provinsi melalui perangkat daerah yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan berdasarkan hasil penilaian tim auditor NKV. Setelah sertifikat diterbitkan, pengawasan tetap dilakukan secara berkala maupun sewaktu-waktu sesuai ketentuan.
Anton menilai, pengelolaan Pasini Farm yang berada dalam satu manajemen dengan Naratas Group dapat memudahkan penerapan dan pengendalian standar operasional.
“Kalau di sini satu manajemen, kemudian pakannya juga sama, sehingga lebih mudah dikontrol,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan peternak rakyat yang menjalankan usaha secara mandiri maupun melalui koperasi. Pengelolaan yang melibatkan banyak peternak dan unit kandang membutuhkan koordinasi serta pendampingan agar standar yang dipersyaratkan dapat diterapkan secara konsisten.
Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peternak rakyat dan koperasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan usaha serta memenuhi persyaratan pasar.
Sementara itu, Komisaris Pasini Naratas Layer Farm, Hary Adam, mengatakan pembangunan kandang kedua merupakan bagian dari pengembangan usaha Pasini Farm untuk meningkatkan kapasitas produksi telur.
Kandang baru tersebut memiliki kapasitas 43.200 ekor ayam petelur dengan menerapkan teknologi closed house. Sistem ini memungkinkan kondisi lingkungan di dalam kandang dikendalikan sehingga pemeliharaan ayam dapat dilakukan secara lebih terukur.
Hary mengatakan, penggunaan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Perkembangan genetik ayam yang semakin baik menuntut pola budidaya yang mampu mendukung efisiensi dan produktivitas.
“Genetik itu dipacu untuk bisa lebih efisien. Tapi itu juga harus kita barengi dengan pola budidaya yang mengikuti zaman,” katanya.
Meski telah memiliki sertifikasi yang membuka peluang untuk menjajaki pasar ekspor, Pasini Farm saat ini masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, khususnya di Kabupaten Ciamis.
“Belum ekspor. Kita lihat di Ciamis saja masih membutuhkan,” ujar Hary.
Ia menambahkan, peluang ekspor tetap terbuka untuk dikembangkan pada masa mendatang. Namun, perusahaan memilih untuk mempertimbangkan kebutuhan pasar domestik sebelum mengambil langkah ekspansi ke luar negeri.
Hary menegaskan, pemenuhan standar melalui NKV merupakan bagian dari upaya perusahaan membangun sistem produksi yang terukur sekaligus menjaga kualitas telur yang dihasilkan.
Untuk mendukung pengelolaan kesehatan ternak, Pasini Farm bekerja sama dengan sejumlah perusahaan yang memiliki kompetensi dan sertifikasi di bidangnya. Peningkatan kemampuan pekerja juga dilakukan melalui pelatihan dan seminar.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, perusahaan berupaya memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Telur yang dihasilkan dapat diseleksi berdasarkan ukuran dan disesuaikan dengan kebutuhan pembeli.
Dengan dukungan sertifikasi, penerapan teknologi closed house, serta penguatan manajemen dan sumber daya manusia, Pasini Farm berupaya menjaga kualitas produk sekaligus mempersiapkan peluang pengembangan pasar pada masa mendatang.
