Banjar, galuh.id – Peternak ayam di Kota Banjar, Jawa Barat, mengharapkan ada kebijakan stabilisasi harga untuk meminimalkan kerugian biaya produksi.
Peternak ayam broiler di Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, tengah berjuang menghadapi turunnya harga ayam yang menghantam perekonomian mereka.
Ade Adang, salah satu peternak lokal, mengungkapkan harapan besar agar harga kembali stabil, setelah harga daging ayam di tingkat kandang turun drastis hingga Rp15 ribu per kilogram.
Biasanya, harga di tingkat peternak mencapai Rp 20 ribu per kilogram ketika kondisi normal.
Ade menuturkan bahwa penurunan harga ini telah berlangsung selama beberapa pekan, bahkan sejak hari raya Idul Fitri 1446 H.
Ia mengakui, kondisi ini berdampak besar pada daya beli masyarakat di pasar.
Produksi ayamnya pun menurun drastis dari biasanya 5 kuintal hingga 1 ton, menjadi hanya 2-3 kuintal.
“Biasanya kalau normal bisa sampai Rp 20 ribu, tapi sekarang betul-betul anjlok,” ujar Ade Adang pada Kamis (24/4/2025).
“Sebelumnya kalau lebaran lumayan cukup tinggi, bisa sampai Rp 25 ribu per kilogram. Tapi sekarang malah turun,” sambungnya.
Turunnya harga ayam ini menurut Ade, tidak hanya merugikan peternak secara ekonomi. Tetapi juga menyebabkan mereka menghadapi tekanan besar terkait biaya produksi.
Ia menambahkan bahwa harga Rp 18 ribu per kilogram saja masih menyebabkan kerugian sekitar Rp 2 ribu per kilogram.
Ade berharap ada kebijakan stabilisasi harga untuk mendukung peternak ayam lokal.
“Kalau di atas Rp 18 ribu, masih bisa sedikit lebih baik. Kami sangat berharap adanya langkah-langkah untuk menjaga kestabilan harga,” ungkapnya.
Sementara itu, pantauan lapangan menunjukkan bahwa harga daging ayam di pasar tradisional Kota Banjar juga sempat turun drastis hingga Rp 24 ribu per kilogram.
Nina, seorang pedagang ayam, mengungkapkan bahwa harga mulai merangkak naik secara perlahan sejak Minggu (20/4/2025) lalu.
“Tidak tahu secara persis penyebab harga di pasaran turun. Namun saya menduga, karena harga pakan dan harga jual tidak sesuai,” pungkasnya. (GaluhID/Diana)
Editor: Evi
