Ciamis, galuh.id – Inovasi SI MAPAN hadir sebagai terobosan baru dalam upaya mendorong keberlanjutan usaha peternakan dan perikanan di wilayah Kabupaten Ciamis.
Maggot Black Soldier Fly (BSF), yang selama ini dianggap sebagai solusi limbah organik, kini menjadi pahlawan baru bagi para peternak di Kabupaten Ciamis.
“Inovasi ini mulai sejak tahun 2018,” ungkap penggagas Inovasi SI MAPAN, Kurdiana (36) warga Desa Kertabumi Ciamis, Selasa (06/5/2025).
Budidaya maggot yang melibatkan 50 pembudidaya mampu menghasilkan hingga 500 kg maggot per hari.
Namun, Kurdiana mengatakan pasar yang tidak stabil dan ketergantungan peternak pada pakan pabrikan mahal masih menjadi tantangan utama.
Untuk menjawab tantangan tersebut, SI MAPAN hadir sebagai terobosan penting. Dengan visi yang jelas, inovasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan.
Kemudian menstabilkan pasar maggot, dan meningkatkan kesejahteraan peternak serta pembudidaya.
“Harapan, inovasi ini mendorong keberlanjutan usaha peternakan dan perikanan di wilayah Kabupaten Ciamis,” kata Kurdiana.
Inovasi SI MAPAN menawarkan solusi inovatif yang menyasar tiga tujuan utama. Antara lain Pengembangan produk turunan maggot BSF, Pemanfaatan bahan baku lokal dari petani.
Selain itu penyediaan pakan berkualitas dengan harga terjangkau untuk ayam dan ikan.
Keunggulan ini memberikan manfaat nyata, mulai dari peningkatan produktivitas, pengurangan biaya produksi, hingga mendukung program ketahanan pangan.
Tidak hanya itu, produksi maggot yang semakin tinggi juga berkontribusi pada pengurangan limbah organik di daerah setempat.
Empat Tahapan Utama Inovasi SI MAPAN
1. Tahap Persiapan: Pendataan kebutuhan pakan dan bahan baku lokal, melibatkan berbagai pihak terkait.
2. Tahap Uji Coba: Pembuatan pelet pakan dan pengujian keberlanjutannya dilakukan di Desa Kertabumi dan tiga desa lainnya yakni Banjarsari, Kawali, dan Saguling.
3. Tahap Implementasi: Penerapan pakan mandiri yang terbukti meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan ternak.
4. Tahap Evaluasi: Monitoring keberlanjutan dan pencatatan hasil untuk pengembangan lebih lanjut.
Inovasi ini membawa perubahan signifikan bagi peternak lokal. Sebelum adanya SI MAPAN, peternak menghadapi keterbatasan dalam mengelola maggot BSF dan pakan mandiri.
Setelah diterapkan, mereka kini memahami metode inovasi, mampu menghasilkan pakan berkualitas, dan memiliki keahlian mengembangkan usaha berkelanjutan.
“Hasil dari inovasi ini banyak peminat para peternak dari luar Ciamis. Karena saya juga menjual inovasi pakan ini, kemarin juga saya abis mengirim ke Bali,” ujar Kurdiana.
Kemudian lanjut Kurdiana, banyak juga yang memesan dari wilayah tetangga seperti Kuningan dan daerah lainnya sekitaran Ciamis.
Komitmen SI MAPAN untuk jangka panjang ditunjukkan melalui langkah strategis, seperti uji laboratorium kandungan pakan, perolehan izin edar, dan pengembangan distribusi skala besar.
Selain itu, Kurdiana juga berharap ada peran pemerintah untuk mengembangkan potensi ini.
“Dengan melibatkan pemerintah setempat, inovasi ini berpotensi menjadi model sukses untuk daerah lainnya. Kami juga masih keterbatasan terkait sarana prasaran untuk mengembangkan inovasi ini,” pungkasnya. (GaluhID/Evi)
