Jalan Pamongkoran, Jejak Romantis dan Adrenalin Anak Muda Kota Banjar

Baca Juga
- Advertisement -
- Advertisement -

Banjar, galuh.id – Bagi masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat, terutama mereka yang lahir di era 70-an hingga 90-an, nama Jalan Griliya Pamongkoran tentu membangkitkan jejak kenangan tersendiri.

Dulu, jalan ini bukan sekadar jalur biasa, melainkan lokasi penuh cerita tempat bertumbuhnya kisah asmara hingga arena bagi para pencinta kecepatan.

Di masa lalu, Pamongkoran menjadi destinasi favorit anak muda yang ingin menghabiskan waktu bersama pasangan.

Dihimpit hamparan sawah hijau dengan pepohonan rindang yang berjajar di sepanjang jalan, suasana yang tempat ini tawarkan begitu mendukung untuk momen romantis.

- Advertisement -

“Dulu tempat ini terkenal sebagai lokasi pacaran yang ideal. Banyak anak muda nongkrong dan menghabiskan waktu dengan pujaan hatinya,” kenang Yoga, warga Kota Banjar.

Sore hari menjadi waktu paling ramai, terlebih saat malam minggu. Pamongkoran berubah menjadi ruang sosial bagi anak muda yang ingin bersantai, berbagi cerita, atau sekadar menikmati suasana.

“Hari Sabtu selalu ramai, dari sore sampai malam banyak yang nongkrong,” tambahnya.

Kala itu, Pamongkoran masih jauh dari pemukiman warga dan belum penuh dengan deretan bangunan seperti saat ini.

- Advertisement -

Jalan yang lengang, angin yang sepoi-sepoi, serta pemandangan bukit di selatan memberikan kesan magis bagi mereka yang pernah merasakan masa-masa itu.

“Pemandangannya indah. Dulu anak-anak seusia saya menganggap tempat ini sebagai spot romantis yang sulit menemukannya di tempat lain,” ungkap Yoga.

Jejak Jalan Pamongkoran Jadi Lintasan Balap Liar

Tak hanya terkenal sebagai tempat bagi pasangan, Pamongkoran juga punya sisi lain yang tak kalah seru yakni arena balap liar. Malam hari, jalanan ini berubah menjadi trek dadakan bagi para pencinta otomotif.

“Tidak cuma pacaran, dulu banyak anak muda yang nongkrong di sini dan sering melakukan balapan liar,” ujar Yoga.

Ia bahkan mengaku pernah terlibat dalam aksi balap liar tersebut. Kecepatan, kebebasan, dan tantangan menjadi magnet bagi remaja di Kota Banjar kala itu.

“Saya dulu ikut balapan, pernah sembunyi di tengah sawah waktu ada patroli polisi,” ucap Yoga.

Meskipun dulu anak-anak muda menikmati kebut-kebutan di jalan ini, Yoga menegaskan bahwa gaya berkendara mereka masih jauh dari aksi ugal-ugalan yang sering terlihat sekarang.

“Kami dulu mencintai balapan, tapi tetap tahu batas. Tidak seperti sekarang yang bahkan membawa senjata tajam saat berkendara,” ucapnya.

Perubahan zaman mengubah wajah Jalan Pamongkoran. Kini, tempat ini sudah padat dengan rumah-rumah warga serta deretan pedagang yang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan.

Tak lagi ramai seperti dahulu, suasana nostalgia perlahan memudar. Yoga pum berharap Pamongkoran bisa kembali hidup seperti dulu.

Dengan semakin banyaknya pedagang di lokasi ini, revitalisasi suasana bisa menjadi dorongan bagi perekonomian warga.

“Kalau suasananya bisa kembali seperti dulu, pasti para pedagang terbantu dan roda ekonomi Banjar ikut terdongkrak,” pungkasnya.

Dari jejak romantis hingga deru mesin balap, Jalan Pamongkoran adalah saksi bisu perjalanan anak muda Banjar dari masa ke masa. (GaluhID/Diana)

Editor: Evi

- Advertisement -
Berita Terbaru

Efisiensi BBM, Bupati Ciamis Kaji Matang Kebijakan WFH ASN

Ciamis, galuh.id — Pemerintah pusat berencana menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai langkah...

Artikel Terkait