Ciamis, galuh.id – Pernyataan Kades Mekarmukti, Ari Ibro, yang terekam dalam sebuah video saat kegiatan Silaturahmi Akbar Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Ciamis mendadak viral di media sosial.
Video tersebut memunculkan berbagai tafsir, bahkan dinilai seolah menyerang profesi jurnalis.
Namun demikian, berdasarkan klarifikasi Ari Ibro dan penjelasan sejumlah pihak, pernyataan tersebut di tujukan kepada oknum yang mengaku sebagai wartawan.
Dugaan, oknum itu melakukan intimidasi serta pemerasan terhadap pemerintah desa. Pernyataan kades bukan kepada jurnalis secara umum.
Kegiatan Silaturahmi Akbar PPDI sendiri dihadiri lebih dari 1.000 perangkat desa dan puluhan kepala desa se-Kabupaten Ciamis.
Acara ini berlangsung sebagai respons atas kasus dugaan intimidasi dan pemerasan oleh oknum yang mengaku wartawan di Desa Mangkubumi, Kecamatan Sadananya.
Ketua PPDI Ciamis menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus komitmen untuk memperkuat sinergitas antara pemerintah desa dan insan pers.
Ia menekankan bahwa pemerintah desa sangat terbuka terhadap media, dan hubungan baik yang selama ini terjalin tidak boleh rusak akibat ulah segelintir oknum.
Sejumlah perangkat desa bahkan mengaku pernah mengalami tindakan serupa dari oknum yang sama. Dengan beberapa di antaranya menyimpan bukti berupa foto, kuitansi, video, hingga rekaman CCTV.
Dalam rangkaian acara tersebut, berbagai pihak menyampaikan sambutan. Mulai dari pemdes Mangkubumi, Camat Sadananya, Kepala DPMD. Kapolsek Ciamis, Ketua APDESI, hingga orasi Ketua PPDI Ciamis, Mas Ahim.
Videonya Viral, Kades Mekarmukti Klarifikasi
Saat orasi berlangsung secara internal, Ari Ibro tiba-tiba menyela dengan suara lantang tanpa menggunakan mikrofon. Momen inilah yang kemudian terekam dan beredar luas di media sosial.
Melalui video klarifikasi, Ari Ibro menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat viralnya video tersebut.
“Saya minta maaf atas kegaduhan yang timbul. Saat itu saya terlalu bersemangat sehingga bahasa yang saya gunakan terdengar emosional. Namun yang saya maksud adalah oknum yang telah dibahas sejak awal acara, bukan jurnalis secara umum,” ujarnya.
Ia juga menegaskan hubungan baiknya dengan insan pers tetap terjalin dan tidak ada niat untuk menyerang profesi jurnalis.
“Saya berteman baik dengan rekan-rekan media. Tidak ada maksud sedikit pun untuk menyinggung atau menyerang profesi jurnalis. Yang saya tuju adalah oknum,” tegasnya.
Beberapa pihak menyayangkan beredarnya potongan video yang tidak utuh karena khawatir menimbulkan kesalahpahaman. Serta merusak hubungan harmonis antara pemerintah desa dan media.
Selain polemik video viral, Ari Ibro juga meluruskan isu dugaan korupsi terkait pengadaan mobil desa yang sempat mencuat. Ia menegaskan informasi tersebut tidak benar.
Pemdes Mekarmukti telah merealisasikan anggaran pembelian Mobil Pelayanan Desa jenis Xenia berplat merah yang saat ini penggunaannya untuk kebutuhan masyarakat.
Sementara satu unit ambulans jenis Grand Max berasal dari dana pribadi hasil gadai SK kepala desa untuk kepentingan pelayanan kesehatan desa.
Pernyataan ini diperkuat oleh Anggota BPD Desa Mekarmukti, Fatoni, yang membenarkan keberadaan dan pemanfaatan kedua kendaraan tersebut.
“Anggaran mobil desa sudah dibelanjakan dan kendaraan tersebut memang ada serta bermanfaat sebagaimana mestinya. Sedangkan ambulans berasal dari dana pribadi hasil gadai SK kades dan sangat terasa manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Fatoni. (GaluhID/Tegar)
Editor: Evi
