Banjar, galuh.id – Warga Dusun Cipariuk, Desa Neglasari, Kecamatan Banjar, Kota Banjar tanam pohon pisang dan pepaya di tengah jalan Bantarpendey Cikembang yang rusak parah.
Aksi ini bukan sekadar sindiran, tetapi bentuk protes warga yang sudah bertahun-tahun menanti janji pemerintah. Namun harapan itu tak kunjung menjadi kenyataan.
Jalan yang telah hancur sepanjang kurang lebih satu kilometer sejak 2016-2017 ini tidak hanya menghambat akses ekonomi warga, terutama para petani. Tetapi juga telah merenggut korban akibat kecelakaan yang terus terjadi.
Tak hanya aksi tanam pohon sebagai bentuk protes, warga juga membentangkan spanduk besar bertuliskan “Jalan Tak Berdaya”.
Spanduk tersebut merupakan sebuah sindiran terhadap slogan pemimpin daerah yang selalu mengusung kata “Berdaya”. Kekecewaan warga kini mencapai puncaknya.
“Kami hanya menunggu tanpa kepastian, sementara jalan ini adalah penghubung vital antara Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis,” tegas Kepala Dusun Cipariuk, Nuryan, Selasa (13/5/2025).
“Ini bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tetapi sudah mengancam keselamatan dan perekonomian kami,” sambungnya.
Sebuah spanduk lain bertuliskan “Bapa Aing Kadie” juga dipasang, sebuah harapan agar Gubernur Jawa Barat turun langsung melihat kondisi jalan yang memprihatinkan ini.
Jika tak ada respons nyata, warga siap melanjutkan aksi mereka dengan gerakan yang lebih besar.
“Kami akan mendatangi Walikota Banjar jika tidak ada perbaikan. Ini bukan sekadar tuntutan, ini adalah hak kami,” ucap Nuryan.
Sementara itu, Sekretaris Desa Neglasari, Dedi Rosdiana menegaskan bahwa jalan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
“Sudah saatnya mereka bertindak, warga tak bisa terus menunggu tanpa kepastian,” ujar Dedi.
Aksi tanam pohon di jalan yang rusak ini menjadi saksi bisu atas janji-janji yang terus terucap namun tak pernah terwujud. Sampai kapan warga harus menunggu. (GaluhID/Teja)
Editor: Evi
