Ciamis, galuh.id – Peribahasa sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, tentunya perlu disematkan kepada Hj Saenah yang budidaya Puyuh Rik Rik Gemi tidak bau dan ramah lingkungan di Desa Cikaso, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten ciamis.
Pasalnya, selain beternak Puyuh, Saenah juga berbudidaya maggot. Dari kotoran puyuh itu ia mendapatkan keuntungan. Menjadikan kotoran puyuh menjadi maggot, dan maggot yang ia dapatkan menjadi pakan ternak puyuhnya.
Selain double keuntungan dan memangkas beban pakan, Saenah mengakui bahwa hasil telur puyuhnya pun makin meningkat.
“Kegiatan saya sehari-hari beternak puyuh sama maggot dan juga ternak lele. Alhamdulillah sekarang berjalan lancar, awalnya cuma 500 ekor, sekarang udah sampai 4.500 ekor,” ujar Saenah, Jumat (11/04/2025).
“Pakan maggotnya 30 persen, pakan pabrikannya 70 persen. Sebelum dikasih maggot, dari 4.500 ekor bertelur hanya 36 kilo. Sesudah kasih maggot alhamdulillah bisa 42 kilo per hari,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ciamis, Giyatno, menyebut jika budidaya puyuh yang Saenah kelola sangat luar biasa dan ramah lingkungan.
Sehingga kata Giyatno, bisa di terapkan oleh masyarakat Ciamis dalam memenuhi kebutuhan protein setiap hari.
“Kenapa ini disebut ramah lingkungan, karena memang ternaknya sangat luar biasa, dengan konsep pemanfaatan kotoran hewan puyuh menjadi maggot. Sehingga menjadikan satu pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat yang baik,” jelasnya.
Budidaya Puyuh Peluang Dukung Program MBG
Giyatno yang juga pembina pengelolaan ternak puyuh ramah lingkungan, menyampaikan bahwa dengan menghasilkan maggot untuk pakan puyuh, bisa meningkatkan produksi puyuh.
“Yang tadinya hanya menggunakan pakan pelet biasa itu hasil produksinya 60-65 persen, namun dengan tambahan maggot hanya 20 persen. Ini bisa meningkatkan produksi telurnya sampai 98 persen,” terangnya.
Penambahan produksi yang bisa meningkatkan ketahanan pangan di masyarakat, yang bisa di lakukan dengan pengolahan sampah organik di setiap rumah tangga, dan bisa menghasilkan produk telur puyuh yang ramah lingkungan.
Karena tidak bau dan tidak mencemari lingkungan, pengembangan puyuh bisa menjadi sebuah pilihan dalam menambah pundi-pundi ekonomi keluarga.
“Selain meningkatkan gizi anak-anak, tentunya menjadi salah satu peluang dukungan bagi program Makan Bergizi Gratis pemerintah pusat yang bertujuan di tahun 2045 akan menjadi generasi emas,” pungkasnya. (GaluhID/Evi)
