Jabar, galuh.id — Penurunan curah hujan yang prediksi terjadi sepanjang musim kemarau 2026 mendorong BMKG mengingatkan potensi meningkatnya risiko kekeringan di wilayah Jawa Barat.
BMKG melalui Stasiun Klimatologi Jabar memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal. Dengan karakteristik lebih kering dan berdurasi lebih panjang dari kondisi normal.
Prediksi tersebut tertuang dalam laporan resmi yang disampaikan kepada Pemprov Jawa Barat sebagai bagian dari informasi peringatan dini menghadapi dinamika iklim tahun inii.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, awal musim kemarau di 41 Zona Musim (ZOM) di Jabar perkiraan mulai terjadi secara bertahap sejak Maret hingga Juni 2026.
Rinciannya, satu ZOM prediksi mulai kemarau pada Maret, empat ZOM pada April, mayoritas yakni 23 ZOM pada Mei, dan sisanya pada Juni. Secara umum, awal musim kemarau 2026 prediksi maju atau lebih cepat dari kondisi normal.
Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991–2020, sebanyak 27 ZOM di Jawa Barat prediksi mengalami kemarau lebih awal. Kemudian 10 ZOM sesuai normal, dan hanya tiga ZOM yang mengalami keterlambatan.
Selain datang lebih cepat, kondisi kemarau tahun ini juga perkiraan lebih kering. BMKG menyebutkan, sebagian besar wilayah Jabar atau 38 ZOM akan mengalami sifat hujan bawah normal. Sementara hanya tiga ZOM yang berada pada kategori normal.
Puncak musim kemarau prediksi terjadi pada periode Juli hingga September 2026, dengan dominasi puncak pada Agustus di sebagian besar wilayah Jawa Barat.
Puncak musim kemarau sebagian besar terjadi pada bulan Agustus 2026. Tidak hanya itu, durasi musim kemarau tahun ini juga prediksi lebih panjang.
Sebanyak 33 ZOM perkirakan mengalami durasi kemarau lebih lama dari normal. Sementara sebagian kecil wilayah lainnya berada pada durasi normal atau lebih pendek.
Langkah BMKG Antisipasi Kekeringan di Jawa Barat
Secara klimatologis, kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dan laut global. BMKG mencatat fenomena ENSO berada dalam fase netral dengan indeks -0,28 setelah sebelumnya berada pada fase La Niña lemah. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada dalam fase netral.
Selain itu, peralihan dominasi angin dari Monsun Asia ke Monsun Australia mulai terjadi sejak Maret dan perkiraan akan semakin kuat pada Juni 2026, yang menjadi salah satu faktor penguat musim kemarau di Indonesia.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi strategis kepada pemerintah daerah, sektor terkait, dan masyarakat.
Di sektor pertanian, penyesuaian jadwal tanam menjadi langkah penting. Termasuk penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan memiliki siklus panen lebih pendek.
Pada sektor sumber daya air, BMKG meminta pemerintah melakukan optimalisasi pengelolaan waduk. Serta perbaikan jaringan distribusi air guna menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Di sektor energi, kapasitas air bendungan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) perlu jaga agar tetap optimal selama musim kemarau.
Sementara itu, di sektor lingkungan dan kebencanaan, BMKG mengimbau pemda meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara.
BMKG menegaskan informasi prediksi musim kemarau ini merupakan bentuk peringatan dini (early warning). Harapan, dapat manfaatkan untuk langkah antisipasi (early action) oleh seluruh pemangku kepentingan.
Dengan langkah mitigasi yang tepat sejak dini, harapan dapat meminimalisasi dampak musim kemarau yang lebih kering dan panjang. Khususnya terhadap sektor pangan, air, dan lingkungan di Jawa Barat. (GaluhID/Tegar)
Editor: Evi
