Ciamis, galuh.id – Gema Pacira, inovasi gagasan SDN 3 Sindangsari Banjarsari, Kabupaten Ciamis, hadir sebagai upaya menyatukan teknologi dengan tradisi pertanian di tengah tantangan perubahan generasi.
Dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di tanah Priangan, Kabupaten Ciamis kini menghadapi sebuah paradoks di tengah hamparan alamnya yang hijau.
Generasi muda perlahan menjauh dari akar agrarisnya, lebih akrab dengan dunia virtual dibandingkan dengan tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Gadget, yang semestinya menjadi jendela menuju pengetahuan, justru kerap berubah menjadi sekat yang menjauhkan anak-anak dari kekayaan alam di sekeliling mereka.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan hilangnya identitas generasi penerus yang tidak lagi terhubung dengan budaya bertani.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, SDN 3 Sindangsari menghadirkan sebuah terobosan bernama Gema Pacira.
Program ini tidak memusuhi teknologi, melainkan memanfaatkannya sebagai alat untuk menguatkan kembali kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal.
Pelopor program, Candrawati Wijaya, menjelaskan bahwa Gema Pacira bertujuan menanamkan kebanggaan menjadi anak petani melalui pendekatan digital.
“Kami ingin mengubah penggunaan gadget dari yang bersifat konsumtif menjadi produktif. Anak-anak kami arahkan menjadi peneliti kecil di lingkungan pertanian mereka sendiri,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Program ini dijalankan melalui tiga langkah strategis. Pertama, Detektif Hama Smart, di mana siswa terjun langsung ke sawah dan kebun untuk mengidentifikasi hama menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan.
Dampak Signifikan Program Gema Pacira
Kedua, QR Herbarium Digital, yaitu pengolahan data tanaman yang dipadukan dengan kearifan lokal dan disajikan dalam bentuk QR Code yang dapat diakses di lingkungan sekolah.
Ketiga, Duta Vlog Petani Cilik, yang mendorong siswa mendokumentasikan aktivitas pertanian secara kreatif melalui media sosial.
Dalam waktu singkat, program ini menunjukkan dampak signifikan. Literasi digital siswa meningkat secara positif, sekaligus membangun kembali kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
Diskusi tentang hama tanaman hingga manfaat herbal kini menjadi bagian dari percakapan keluarga sehari-hari.
Daniati, salah satu orang tua siswa, mengaku merasakan perubahan tersebut. “Saya sangat setuju dengan pembelajaran ini, karena anak menjadi lebih peduli terhadap alam,” katanya.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Sindangsari, Linda Sugiarti, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan tanggung jawab bersama.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong menjaga generasi sekaligus kedaulatan bangsa. Anak-anak harus cerdas secara digital, namun tetap bangga menjadi pewaris pertanian,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah setempat. Mujiono, Camat Banjarsari menyebut Gema Pacira sebagai inovasi inspiratif yang mampu menumbuhkan semangat baru di sektor pertanian.
“Ini menjadi langkah penting dalam menyiapkan sumber daya manusia masa depan yang melek teknologi tanpa meninggalkan jati diri agraris,” ungkapnya.
Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, Gema Pacira hadir sebagai bukti bahwa teknologi dan tradisi tidak harus saling meniadakan.
Dari Ciamis, sebuah gerakan kecil tumbuh menjadi harapan besar bagi masa depan kedaulatan pangan Indonesia. (GaluhID/Yayan)
Editor: Evi
