Banjar, galuh.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus kecaman keras terhadap proses seleksi calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Banjar.
HMI menilai seleksi ini tidak mencerminkan semangat regenerasi, profesionalisme, dan netralitas sebagai lembaga keagamaan yang mengemban amanah besar dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.
Dalam pernyataan resminya, Ketua Umum HMI Cabang Banjar, Rio Julian Rustandi Putra, menyoroti dua persoalan mendasar yang menciptakan polemik dalam proses seleksi tersebut:
1. Lolosnya seorang mantan calon legislatif (caleg), yang menimbulkan kekhawatiran terkait independensi lembaga zakat dari pengaruh politik.
2. Dominasi nama-nama lama, khususnya pensiunan pimpinan BAZNAS sebelumnya, yang dinilai menghambat proses penyegaran kepemimpinan dan inovasi dalam pengelolaan zakat.
“Kami mencium adanya aroma politisasi lembaga zakat. Bagaimana mungkin seseorang yang gagal dalam kontestasi politik justru kini lolos dalam seleksi calon pimpinan BAZNAS,” ujar Rio, Kamis (05/06/2025).
“Bukankah ini mencederai independensi lembaga yang seharusnya steril dari kepentingan politik praktis,” sambungnya.
Lebih jauh, ia juga mempertanyakan minimnya semangat regenerasi dalam tubuh BAZNAS Kota Banjar.
Dari daftar nama yang lolos seleksi, sebagian besar merupakan wajah-wajah lama. Bahkan beberapa di antaranya adalah pensiunan yang sebelumnya menjabat di posisi serupa.
Transparasi Seleksi Calon Pimpinan Baznas
Menurur Rio, lembaga zakat ini harusnya menjadi motor perubahan, tempat berkumpulnya orang-orang muda yang kompeten dan visioner.
“Bukan malah di jadikan ladang parkir bagi mantan pejabat atau politisi yang kehilangan panggung, ” tegasnya.
HMI Banjar menilai pola rekrutmen seperti ini hanya akan memperlemah kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.
Sebagai lembaga yang mengelola dana umat, BAZNAS semestinya di isi oleh tokoh-tokoh berintegritas tinggi, bebas dari konflik kepentingan.
Selain itu memiliki kapasitas dalam memberdayakan masyarakat, bukan sekadar loyalis atau mantan pejabat.
Menanggapi situasi ini, HMI Banjar mengajukan beberapa tuntutan kepada pihak terkait. Antara lain transparansi penuh dalam proses seleksi calon pimpinan BAZNAS.
Kemudian evaluasi ulang terhadap calon yang memiliki afiliasi politik aktif, termasuk mantan caleg. Pemberian ruang lebih besar kepada tokoh muda, profesional, dan independen.
Selain itu pencegahan dominasi figur lama, termasuk pensiunan, demi regenerasi kepemimpinan yang sehat.
“Kami akan terus mengawal isu ini. Jika tidak ada tindakan serius dari Pemkot Banjar dan DPRD, kami siap turun ke jalan menyuarakan aspirasi umat,” pungkas Rio. (GaluhID/Teja)
Editor: Evi
