Berita Ciamis, galuh.id – Kisah ibu di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang memilih menjadi Ojek Online (Ojol) untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Daheryanti (38) warga Dusun Sukasari Desa Imbanagara Kecamatan Ciamis menyampaikan kisahnya menjadi driver Ojol untuk memenuhi kebutuhannya, Senin (03/06/2025).
Menurut Daheryanti, awalnya ia sebagai karyawan pabrik selama 10 tahun yang berlokasi di Desa Ciharalang Kecamatan Cijeungjing.
“Awalnya saya bekerja di pabrik, saya bekerja di pabrik bulu mata selama 10 tahun,” jelas ibu yang memiliki 3 orang anak.
Baca juga: Ojek Online Ciamis Beri Santuan Kepada Anak Yatim
Daheryanti melanjutkan, karena pabrik tempat ia bekerja memiliki masalah yang mengakibatkan gulung tikar, Daheryanti pun tidak bekerja.
“Saya berhenti bekerja di pabrik pada tahun 2020, dan saya pun berada di rumah tidak bekerja,” ungkap Daheryanti.
Karena biasa bekerja, Daheryanti pun di rumah merasa jenuh karena tidak memiliki pekerjaan seperti sebelumnya.
“Karena biasa bekerja, terus sekarang tidak bekerja, di rumah saya merasa jenuh tidak ada kegiatan,” ungkap Daheryanti.
Kisah Ibu Jadi Driver Ojol, Tunggu Orderan di Rumah
Daheryanti juga menyampaikan, saat daftar ia harus menunggu sekitar 6 bulan agar ajuannya mendapatkan persetujuan.
Setelah ia diterima menjadi Ojol, customer pertama adalah seorang perempuan dari Jalatrang tujuan Stadion Galuh Ciamis.
Sedangkan yang terjauh, Daheryanti pernah mendapatkan customer yang berasal dari Imbanagara dengan tujuan Panumbangan.
Daheryanti pun tidak melupakan posisi sebagai seorang istri dan seorang ibu, sehingga ia pun memutuskan menunggu orderan dari rumah.
Baca juga: Driver Ojek Online di Ciamis Rugi Karena Konsumen Tidak Bertanggungjawab
“Saya menunggu orderan dari rumah, menunggu di luar itu paling sebentar saat saya mengantarkan customer, selanjutnya saya menunggu di rumah,” jelasnya.
Kemudian untuk waktu operasional, dari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00, atau jika terdapat keperluan, aplikasinya tidak ia aktifkan.
“Kewajiban saya sebagai istri dan ibu harus tetap saya lakukan, ini pun saya tas izin suami dan tujuannya membantu keuangan keluarga,” tambah Daheryanti.
Daheryanti pun bersyukur, ia belum pernah mendapatkan hal yang tidak menyenangkan, jika orderan fiktip menurutnya hal biasa.
“Alhamdulillah tidak ada hal yang tidak menyenangkan, order fiktip biasa saya anggap sebuah resiko pekerjaan,” pungkas Daheryanti.(GaluhId/Ardiansyah)
