Pangandaran, galuh.id – Idham Hamdani, seorang pengrajin asal Pangandaran, telah menjadikan miniatur perahu nelayan sebagai sarana untuk mengenalkan kearifan lokal ke pentas dunia.
Dalam keindahan Pantai Pangandaran yang memesona, tersembunyi sebuah kisah luar biasa tentang tekad dan kreativitas.
Perjalanan Idham yang kini berusia 34 tahun, mulai pada tahun 2017. Ketika hanya berbekal bambu, ia mencoba membuat miniatur perahu pesiar pertamanya.
“Tidak menyangka, karya itu menarik perhatian wisatawan dari Las Vegas yang membelinya seharga Rp 200 ribu,” kata Idham, Jumat (25/4/2025).
Sejak menekuni kerajinan ini secara serius pada tahun 2019, Idham terus mengasah keahliannya secara otodidak melalui bimbingan teman dan eksplorasi di media sosial.
Kini, ia lebih memilih menggunakan limbah kayu bangunan untuk menghasilkan miniatur yang kokoh dan diminati pasar.
Dengan produksi sekitar 400 unit miniatur perahu, setidaknya separuhnya telah berhasil terjual, menghasilkan omzet lebih dari Rp 10 juta per bulan.
Keberhasilan ini tidak hanya mengubah kehidupannya dari pekerja serabutan menjadi pengrajin yang di akui, tetapi juga menjadi simbol cinta pada budaya lokal.
Namun demikian, perjalanan sukses Idham bukannya tanpa rintangan.
“Modal selalu jadi kendala. Kayu mahal, dan banyak pembeli yang membayar belakangan,” ungkapnya.
Miniatur-miniatur karyanya kini menghiasi kios-kios wisata dan lapak pedagang mainan di kawasan Pantai Pangandaran.
Idham berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan dukungan bagi pengrajin lokal seperti dirinya untuk terus berkembang.
“Dengan karya ini, saya ingin mengenalkan keindahan Pangandaran ke seluruh dunia. Semoga ada bantuan yang memungkinkan kami terus berkarya dan mengangkat budaya lokal,” tuturnya.
Lewat tangan kreatif Idham Hamdani, miniatur perahu bukan hanya sekadar kerajinan.
Ia telah menjadi simbol cinta budaya lokal, sekaligus inspirasi bagi banyak orang untuk terus berkarya meski berhadapan dengan berbagai tantangan. (GaluhID/Diana)
Editor: Evi
