oleh

Setelah si ‘Dia’ Kalah Lagi di Bangka

 
 

Oleh: Triana Megandara

Lagi ketika rasa dan pikiran dibuat sakit membaca berita klub kabupaten yang kalah lagi.

Hari Minggu kemarin (7/7/2019) saya tidak sempat membuka WAG dan medsos, sekalipun saya tahu dan sadar bahwa hari Minggu adalah harinya klub kabupaten bermain. Tapi apa daya, saya dibuat sibuk urusan pekerjaan dengan kemacetan ibukota provinsi, diiringi rinai gerimis hujan yang membuat suasana sendu.

Senin (8/7/2019) dini hari ketika semua urusan selesai saya baru membuka semua laman media sosial, WAG dan beberapa chat personal, karudetan itupun datang, lagi, lagi dan lagi saya membaca kawan-kawan saya mulai ‘ngacaprak‘ menanggapi kekalahan klub kabupaten, yep, saya pun ikut menggerutu atas kekalahan 2-1 oleh Bangka, what, ai maneh hereuy Mis?

Pasca kekalahan di Bangka, ada kawan yang menceritakan kisahnya yang harus berdebat dengan para pemain karena status WA yang mengkritik, sampai ada yang disuruh ‘sok maneh nu jadi pelatihna‘  semua ber-pansos ria mencari pembelaan atas diri sendiri.

Siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus kawan-kawan saya kritik? Sekalipun tagar #BioOut mulai bermunculan di netizen kabupaten, tapi saya lebih setuju dengan tagar #PSGCbutut kenapa? Ya daripada memojokan personal lebih baik evaluasi semua.

Sepak bola menjadi drama yang paling keren setelah film-film Korea (dan kamu tentunya, ehemm). Sepak bola bukan hanya seni memainkan kulit bundar saja, tapi ada nilai perlawanan, perjuangan dan solidaritas tim (dikutip dari seorang penulis bernama teh Maya).

Wajar pemain terpancing ketika kawan saya mengkritik, karena mungkin mereka telah berjuang dan melawan untuk memenangkan pertandingan. Yang hilang dari PSGC sekarang adalah karakter solidaritas. Bermain untuk satu sama lain dan kehebohan kebintangan personal harus tunduk pada sistem permainan demi kebaikan bersama.

Tah pemain PSGC harus gelut ngalawan ego macam begini yang ada pada pribadinya, katanya. But show must go on.

Hal yang menarik adalah semangat kelompok suporter dan penikmat sepak bola Ciamis. Mereka mulai berani mengkritik membuktikan bahwa ‘rasa’ untuk PSGC telah ada, seperti halnya anak muda jatuh cinta.

Tinggal bagaimana dua sejoli itu memainkan rasa dan pilihannya ditinggal pergi atau bertahan dengan sejuta problematika kerudetan yang dirasa. Pilihan itu tergantung pada objek yang dicintainya: PSGC Ciamis.

Saya semakin semangat untuk hari Sabtu (13/7/2019) nanti melawan Persiraja Banda Aceh, apa drama yang akan tersaji di Galuh? Masih masalah keberuntungan atau masih masalah kurang fokus pemain?

Hahaha coach, show your tactic, not your fvcking bvllshit. Celoteh saya ketika membaca berita kekalahan kemarin.

Tulisan ini dibuat ketika mentari menghangati pagi dan saya bukan seorang pewarta yang pandai merangkai kata secara objektif, saya sama seperti kalian kawan-kawan suporter yang berdebat, tidak lain lantaran ingin mengetahui duduk perkara permasalahan, sumber, serta sebab akibatnya.

Tetap tenang, mari berkritik untuk membangun. Karena ‘kritik itu biasa, bagi orang yang berpikir‘ begitu kata bapak Ali Sadikin.

Salam Moal Mundur Ngabela Lembur.C

Penulis @akuntrink ~~Belajar nulis dari pemilik kolom Ndu Corner yang sekarang hilang karakternya karena dilanda bosan.

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA