Senin, Juli 22, 2024

Thomas Doll Hengkang dari Persija, Indonesia Kehilangan Pelatih Oposisi

Baca Juga
- Advertisement -

Galuh.id– Sepak bola Indonesia mengalami kehilangan pelatih oposisi setelah Thomas Doll untuk mengakhiri kebersamaannya dengan Persija Jakarta. 

Sosok Thomas Doll adalah salah satu yang langka, ia memiliki keberanian untuk bersikap kontra terhadap otoritas PSSI dan pelatih Tim Nasional, Shin Tae-yong.

Thomas Doll meninggalkan Persija setelah dua musim menangani klub ibukota dengan hasil yang beragam. 

- Advertisement -

Pada musim pertamanya, Macan Kemayoran berhasil mencapai posisi runner-up, namun pada musim kedua performa mereka menurun ke peringkat delapan. 

The Jakmania sepatutnya memahami penyebab penurunan performa tersebut karena keterbatasan materi pemain akibat mismanajemen di tingkat atas.

Di luar lapangan, pelatih asal Jerman ini mewarnai dua tahun perjalanan sepak bola Indonesia dengan berbagai pernyataan yang tajam dan berani. 

Peran Thomas Doll Sebagai Pelatih Oposisi di Sepak Bola Indonesia

Seperti halnya dalam negara demokrasi yang membutuhkan oposisi, Thomas Doll menjalankan peran sebagai penentang otoritas sepak bola. 

Dalam hal ini, Thomas Doll sering berseberangan pendapat dengan PSSI dan Shin Tae-yong.

Pada musim pertamanya, mantan pelatih Borussia Dortmund ini terkejut dengan besarnya pengaruh PSSI dan Shin Tae-yong dalam memanggil pemain dari klub. 

Di liga-liga Eropa, pemanggilan pemain ke Tim Nasional hanya pada masa jeda internasional. 

Pihak klub memiliki hak menahan pemain jika tim nasional memanggil di luar jadwal FIFA. 

Namun di Indonesia, Thomas Doll melihat PSSI bisa memanggil pemain sebanyak mungkin untuk pemusatan latihan jangka panjang.

Situasi ini semakin pelik karena Persija sering kali menjadi klub dengan pemain terbanyak yang mendapat panggilan Tim Nasional baik untuk kelompok umur maupun senior. 

Baca juga: Performa Calvin Verdonk di Timnas Indonesia Jadi Sorotan NEC Nijmegen

Bahkan ketika Persija dan PSSI bertemu untuk membahas hal tersebut, Thomas Doll marah dengan tindakan Shin Tae-yong.

Pelatih Timnas Indonesia tersebut justru mengirim asistennya, Nova Arianto sebagai perwakilan. 

Pada saat itu, kata “badut” keluar dari mulut Thomas Doll yang tertuju pada Shin Tae-yong.

Meskipun kemudian Doll mengakui kesalahannya dalam menggunakan kata “badut,” hal itu tidak menggoyahkan pendiriannya untuk terus melawan. 

Bahkan pada bulan-bulan terakhirnya menangani Persija, Thomas Doll masih harus melihat timnya goyah oleh keputusan PSSI dan Shin Tae-yong. 

Sebanyak lima pemain Persija mendapat panggilan Timnas Indonesia U-23 untuk Piala Asia U-23 2024.

Hal tersebut membuat Thomas Doll hanya memiliki 16-17 pemain untuk mengarungi Liga 1.

Akankah selanjutnya ada sosok pelatih Liga 1 seperti Thomas Doll yang akan menjadi oposisi? (GaluhID/Dianti)

- Advertisement -
- Advertisement -
 
 
Berita Terbaru

Strategi Parkir Bus Hadapi Timnas Indonesia U–19, Pelatih Kamboja Waspadai Ini!

Galuh.id- Pelatih Kamboja, Phea Sopheaktra memberikan pernyataan usai timnya mengalami kekalahan dari Timnas Indonesia U-19.  Pada laga kedua yang berlangsung...

Artikel Terkait