Banjar, galuh.id – Tugu Adipura, simbol kebanggaan Kota Banjar atas prestasi membanggakan dalam menjaga kebersihan dan lingkungan selama tujuh kali berturut-turut, kini bagai saksi bisu yang terabaikan.
Bagian bawah tugu yang berdiri di pertigaan Jalan Nasional Kota Banjar terlihat memprihatinkan, struktur keropos, besi penyangga ornamen tergerus usia.
Padahal, posisinya yang strategis seharusnya menjadikannya wajah gemilang daerah ini. Kini, simbol kejayaan itu hanya menjadi ornamen lapuk yang menyimpan kisah pilu tanpa perbaikan nyata.
Kondisi memalukan ini melahirkan gelombang kritik terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Banjar.
Sejak pertama kali menerima penghargaan Adipura pada 2013 hingga terakhir di 2023, tugu ini seolah hanya menjadi alat pencitraan tanpa upaya perawatan berkesinambungan.
“Bagaimana mungkin kota yang tujuh kali sukses menjaga lingkungan justru mengabaikan simbol prestisenya sendiri? Ini bukti nyata ketidakselarasan antara klaim dan tindakan,” tegas Andi Maulana, warga Banjar, Selasa (8/4/2025).
Lebih dari sekadar estetika, kerusakan tugu ini mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap infrastruktur publik.
Tugu Adipura Kebanggaan yang Terabaikan
Sebagai titik utama yang di lintasi kendaraan lintas provinsi, tugu ini seharusnya memancarkan semangat kesungguhan Banjar dalam mempercantik tata kota.
Namun, yang terlihat hanyalah besi karatan dan struktur rapuh yang memperkeruh pesan prestasi Adipura sekadar pencapaian angka, bukan cerminan budaya kerja nyata.
Masyarakat kini mempertanyakan, di mana alokasi anggaran selama satu dekade penghargaan ini diraih.
Apakah dana pemeliharaan terabaikan demi fokus memburu trofi semata. Atau apakah Adipura hanya menjadi kebanggaan birokrasi tanpa dampak berarti bagi warga.
“Jika lambang kota seperti tugu saja tak terawat, bagaimana dengan aset lain yang lebih tersembunyi. Penghargaan ini tak seharusnya hanya menjadi kepuasan birokrat, melainkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambah Andi.
Hingga kini, Pemkot Banjar belum memberikan penjelasan resmi mengenai keterlambatan perbaikan tugu.
Diamnya pemerintah semakin memperkuat stigma pengabaian terhadap tanggung jawab. Jika terus di biarkan, bukan hanya kebanggaan warga yang hilang, tetapi juga reputasi Banjar sebagai kota juara Adipura.
“Warga menanti tindakan konkret. Prestasi tujuh kali Adipura harus terbukti melalui dedikasi nyata. Bukan sekadar tugu lapuk yang mendekam di persimpangan jalan,” pungkasnya. (GaluhID/Diana)
Editor: Evi
