Kamis, 25 Februari 2021
Kamis, 25 Februari 2021
 
 

Bupati Perlu Atur Penggunaan Plastik di Ciamis

Penulis: Turehan Ashuri

Opini, galuh.id – Bahaya sampah plastik kian terasa seiring dengan langkanya air di musim kemarau ini. Bukan hanya karena deforestasi yang terjadi di sisa hutan yang kita miliki, namun juga karena resapan air yang terhalangi sampah plastik yang terpendam puluhan tahun lamanya.

Kebiasaan masyarakat desa masih membuang sampah di belakang rumah dengan menggali tanah, masyarakat sama sekali tidak memilah sampah organik dan non organik seperti plastik dan sampah yang tidak mampu diolah oleh tanah. Kita bisa bayangkan bahwa plastik mampu terurai secara alami membutuhkan proses 350 sampai 500 tahun.

Adanya Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah sudah cukup menjadi acuan bupati Kabupaten Ciamis untuk mengeluarkan aturan larangan penggunaan plastik sekali pakai. Tidak hanya itu saja, dalam aturan tersebut juga harus memperkuat soal pengelolaan sampah organik dan non organik.

Kita melihat bahwa progam daur ulang sampah masih sebatas seremonial dan aplikasinya lemah di masyarakat. Bukan hanya dampak kekeringan yang bisa terjadi, namun juga saat musim kemarau air tidak teresap humi, karena pori-pori bumi tertutup sampah plastik yang telah terkubur lama dan tidak terurai.

Kerusakan lingkungan bukan terjadi karena faktor individu, namun bisa terjadi lantaran banyak faktor. Penyebab kerusakan lingkungan tidak hanya karena faktor individu, tetapi kebijakan pemerintah juga berperan penting.

Perlu diingat juga sampah tidak datang dari rumah tangga ataupun industri, namun juga dari impor sampah yang berasal dari luar negeri yang lagi ramai dibahas sekarang ini.

Jadi sudah semestinya kita bergerak bersama, namun tanpa regulasi yang jelas dan hanya berpatokan pada undang-undang, hal ini masih dianggap lemah. Sekali lagi Bupati Ciamis segeralah membuat Peraturan Bupati atau Perda supaya kepala desa bisa membuat peraturan desa (Perdes) untuk menangani masalah yang sudah sangat serius ini.

Kerusakan lingkungan hidup sudah sampai stadium akhir, jangan sampai kita mewarisi tangisan dengan rusaknya hutan, laut yang kotor dan kualitas air yang buruk. (galuh.id)

Turehan Ashuri

Pegiat lingkungan hidup dari Paguyuban Bale Rahayat . Tinggal di Banjarsari (masih) Ciamis.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir Jakarta

Opini, galuh.id - Hujan sejatinya membawa berkah bagi kehidupan. Akan tetapi karena sesuatu hal -- misalnya tata kelola lingkungan yang salah,  hujan yang datang...

Penundaan Pilkades Serentak Tahun 2020 dalam Perspektif Politik Hukum

Pandemik Covid 19 tidak saja telah mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat tetapi juga telah mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi. Secara sederhana dapat kita saksikan bagaimana...

Mimbar Mahasiswa: ‘Penghianatan Kaum Intelektual’

Pergerakan seorang mahasiswa adalah bentuk tanggung jawab dan amanah sebagai perwakilan pemuda yang berpendidikan. Etika, moral, intelektualitas dan kebebasan berpendapat adalah satu kesatuan yang melambangkan...

Temukan Kami

47,944FansSuka
219PengikutMengikuti
2,760PelangganBerlangganan

Artikel Lainnya