Dulu Megah, Alun-alun Pangbagea Pangandaran Kini Terbengkalai

Baca Juga
- Advertisement -
- Advertisement -

Pangandaran, galuh.id – Alun-alun Pangbagea yang dulunya digadang-gadang sebagai simbol kemegahan Kabupaten Pangandaran, kini berubah menjadi ironi besar.

Proyek yang menghabiskan dana Rp 24 miliar dari APBD Provinsi Jawa Barat ini di resmikan dengan penuh haru oleh mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pada tahun 2022.

Namun hanya dalam beberapa tahun, kondisinya kian memprihatinkan, kumuh, sunyi, dan seperti terlupakan.

Alun-alun yang terletak strategis di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, dan berdiri megah di depan kantor Bupati Pangandaran seharusnya menjadi ruang publik ikonik, multifungsi, dan merakyat.

- Advertisement -

Sayangnya, yang tersisa kini hanyalah bayang-bayang mimpi besar yang tak terwujud, menimbulkan kritik tajam dari berbagai kalangan.

Ketua Komunitas Belajar Sabalad, Dedi Supriatna, tak mampu menutupi kekecewaannya terhadap kondisi Alun-alun yang kini terbengkalai.

“Sungguh ironis. Lokasinya begitu dekat dengan kantor Bupati Pangandaran, tapi malah di biarkan terbengkalai. Tata kelola pemerintah daerah jelas sangat buruk. Rakyat Pangandaran harus berani bersuara,” katanya, Kamis (3/4/2025).

Penyebab Alun-alun Pangbagea Terbengkalai

Menurut Dedi, salah satu penyebab utama permasalahan adalah aksesibilitas yang buruk. Lokasi Alun-alun jauh dari jalur utama dan nyaris tak tersentuh transportasi umum.

- Advertisement -

Menjadikannya tempat yang hanya bisa dinikmati oleh warga yang memiliki kendaraan pribadi.

“Alun-alun itu seharusnya menjadi ruang terbuka bagi semua kalangan, tapi faktanya hanya segelintir orang yang bisa mengaksesnya. Ini kontraproduktif dengan tujuan awal pembangunannya,” imbuh Dedi.

Selain itu, kondisi fasilitas Alun-alun yang rusak parah semakin memperkeruh keadaan. Bangku taman yang patah, lampu penerangan yang padam, dan area sepi menghadirkan suasana suram yang jauh dari kata ramah.

Bahkan, minimnya penerangan memicu kekhawatiran akan meningkatnya tindak kriminal.

Dedi menyebut bahwa kurangnya koordinasi pemerintah daerah dengan dinas terkait menjadi akar dari semua permasalahan ini.

Alih-alih menjadi pusat interaksi sosial, Alun-alun itu malah terisolasi, memunculkan kesan pembiaran yang menyakitkan bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga keamanan. Rasanya seperti pemerintah tidak peduli terhadap rakyatnya sendiri,” ucapnya.

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Alun-alun yang pernah menjadi kebanggaan, kini menjadi lambang kegagalan tata kelola dan minimnya perencanaan.

Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah untuk mengambil langkah nyata.

“Semoga Alun-alun Pangbagea segera di renovasi fasilitasnya, tingkatkan aksesibilitas dan perawatan berkalanya,” pungkasnya. (GaluhID/Diana)

Editor: Evi

- Advertisement -
Berita Terbaru

Kwarcab Ciamis Matangkan Kontingen Jambore Nasional XII Lewat Training Center I

Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Ciamis menggelar Training Center ke-I untuk Jambore Nasional XII 2026 di Aula Dasadarma. Kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan 32 peserta yang terdiri dari regu putra dan putri, agar siap secara mental dan keterampilan. Peserta diharapkan mengikuti arahan dengan sungguh-sungguh untuk sukses di Jambore.

Artikel Terkait