Ciamis, galuh.id – Gelombang kekecewaan melanda para peternak ayam broiler (BR) di Ciamis, Jawa Barat, setelah harga jual ayam hidup anjlok pasca hari raya Idul Fitri 1446 Hijriyah.
Tidak hanya daging ayam potong yang mengalami penurunan drastis. Tetapi harga ayam hidup di tingkat peternak pun jatuh ke titik yang jauh di bawah biaya produksi.
Sebelum Lebaran, harga daging ayam potong di pasar sempat melambung hingga Rp 42.000 sampai Rp 45.000/kg. Namun setelah Idul Fitri harganya anjlok hingga Rp 34.000/kg.
Sementara itu, harga ayam BR hidup di tingkat peternak kini hanya berada di kisaran Rp 11.000 hingga Rp 12.000/kg.
Harga itu jauh di bawah titik impas biaya produksi (Break Even Point/BEP) yang berkisar antara Rp 19.000-Rp 20.000/kg bagi peternak mandiri, dan Rp 16.000-Rp 17.000/kg bagi peternak perusahaan.
Komar, peternak ayam broiler asal Desa Talagasari Kawali, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi ini.
“Harga ayam hidup jatuh parah, menyebabkan peternak baik yang mandiri maupun yang terintegrasi mengalami kerugian besar,” ujarnya, Senin (21/4/2025).
Penyebab Harga Ayam Anjlok, Peternak Desak Solusi
Menurut Komar, merosotnya harga ayam BR setelah Lebaran disebabkan oleh over supply di pasaran.
Perusahaan yang memiliki gudang pendingin (cold storage) menggelontorkan stok karkas ayam beku secara besar-besaran menjelang Lebaran. Sehingga, penyerapan ayam hidup dari peternak berkurang drastis.
“Stok ayam BR di kandang yang seharusnya dijual sebelum Lebaran malah tertunda, sehingga setelah Lebaran pasokan makin melimpah dan harga jatuh,” katanya.
Saat ini, kondisi pasar tengah dibanjiri ayam yang tidak terserap, sehingga harga terus menukik.
Tak hanya ayam broiler, harga ayam pedaging pejantan juga mengalami penurunan, meskipun tidak separah ayam BR.
Sebelum Lebaran, harga pejantan sempat menyentuh Rp 33.000 sampai Rp 34.000/kg, namun kini turun menjadi Rp 29.000/kg.
Berbeda dengan ayam BR, harga pejantan masih mendekati BEP, yaitu sekitar Rp 28.000 sampai Rp 29.000/kg, sehingga peternak masih bisa bertahan.
Sekretaris Perkumpulan Peternak Ayam Priangan (P2AP), Kuswara Suwarman, menegaskan bahwa penyebab utama keterpurukan harga ayam ini adalah ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.
“Stok ayam melimpah, sedangkan permintaan tidak sebanding, menyebabkan harga tertekan,” jelasnya.
Berdasarkan data pasar (Pinsar), harga ayam BR di Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya terus mengalami tren penurunan. Pada 5 April 2025, harga di kandang masih berada di kisaran Rp 16.000 hingga Rp 17.500/kg.
Namun pada 10 April 2025 telah turun ke Rp 12.000 sampai Rp 14.500/kg. Hingga akhirnya bertahan di angka Rp 11.000-Rp 12.000/kg dalam seminggu terakhir, jauh di bawah BEP. (GaluhID/Diana)
Editor: Evi
