CIAMIS, galuh.id – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis mengimbau para pembudidaya ikan meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak musim kemarau.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Ciamis bagian selatan dan sebagian wilayah utara. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk kegiatan budidaya ikan.
Kepala Disnakkan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu Radityananto, mengatakan hampir 90 persen wilayah Ciamis mulai mengalami kekeringan. Sementara wilayah yang relatif masih aman dari krisis air berada di kawasan kaki Gunung Sawal.
“Untuk laporan kekeringan, kami bersama penyuluh perikanan terus memantau perkembangannya. Memang kekeringan sudah melanda beberapa kecamatan di Ciamis Selatan dan sebagian Ciamis Utara. Yang relatif aman itu daerah di kaki Gunung Sawal, sisanya hampir 90 persen sudah mulai kering,” ujar Anton, Senin (7/9/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, Anton meminta pembudidaya ikan, khususnya ikan gurame, menerapkan manajemen budidaya secara efisien. Penggunaan air, pengaturan kepadatan tebar, manajemen pakan, hingga pengendalian penyakit perlu diperhatikan agar pembudidaya tidak mengalami kerugian.
“Di musim kemarau ini harus pintar-pintar memanfaatkan air. Untuk pakan gurame, usahakan jangan terlalu banyak memberi pelet, perbanyak pakan hijauan dan frekuensinya disesuaikan. Jangan terlalu sering,” jelasnya.
Selain persoalan ketersediaan air, Disnakkan Ciamis juga mewaspadai potensi serangan penyakit ikan yang dapat meningkat pada masa pancaroba hingga puncak kemarau, terutama pada periode Juli hingga September. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pembudidaya ikan gurame adalah infeksi bakteri Aeromonas.
“Penyakit yang sering menyerang di bulan Juli, Agustus, dan September itu biasanya Aeromonas. Gejala awalnya ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada tubuh ikan, hilangnya lendir, peradangan hingga memerah, dan pada kondisi parah bisa menyebabkan luka keropeng hingga kematian,” terang Anton.
Meski demikian, hingga saat ini Disnakkan Ciamis belum menerima laporan adanya serangan Aeromonas dalam skala parah. Beberapa pembudidaya memang mulai menemukan gejala ringan di kolam, namun masih dapat diantisipasi.
“Laporan yang parah sampai saat ini tidak ada, mudah-mudahan jangan sampai terjadi. Kalau gejala kecil seperti bercak-bercak memang sudah ada, tetapi para pembudidaya sudah bisa mengantisipasinya, baik dengan cara dipanen lebih awal untuk dikonsumsi maupun dikarantina dan diobati,” tambahnya.
Untuk mencegah penyebaran bakteri Aeromonas, Anton menyarankan pembudidaya menjaga kualitas air, baik air yang masuk ke kolam maupun kondisi air yang sudah berada di dalam kolam.
Menurutnya, pengelolaan sirkulasi air menjadi penting karena aliran air berpotensi membawa bakteri penyebab penyakit ke kolam budidaya.
“Penahanan sirkulasi air, pengaturan kepadatan tebar, serta menjaga kebersihan pakan menjadi langkah krusial dalam menjaga kelangsungan budidaya ikan di Kabupaten Ciamis,” pungkasnya.
