Kentrong; Tradisi Unik Warga Parungsari Kota Banjar untuk Bangunkan Sahur

Baca Juga
- Advertisement -
- Advertisement -

Banjar, galuh.id – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, warga Lingkungan Parungsari, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, tetap mempertahankan tradisi khas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari bulan suci Ramadan.

Setiap dini hari menjelang sahur, suasana kampung berubah menjadi lebih hidup dengan bunyi khas alat-alat sederhana yang dimainkan oleh anak-anak dan remaja setempat. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Kentrong.

Kentrong bukan sekadar cara untuk membangunkan warga agar tidak melewatkan sahur, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan.

Berbekal kentongan bambu, ember bekas, hingga alat-alat bunyi-bunyian lainnya, para remaja berkeliling kampung dengan penuh semangat.

- Advertisement -

“Kentrong ini sudah menjadi bagian dari budaya kami. Setiap tahun, kami bangunkan warga agar tidak terlambat sahur,” ujar Ade De’Onk, salah seorang warga yang aktif dalam tradisi ini, Senin (3/3/2025).

Kegiatan ini dimulai sekitar pukul 02.00 WIB. Dengan penuh antusiasme, para remaja menyusuri gang-gang kecil di kampung mereka, menciptakan suara khas yang menjadi alarm alami bagi warga.

Tradisi ini tidak hanya menyenangkan tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial di kalangan anak muda.

“Kami melakukannya dengan hati yang senang. Selain untuk membangunkan sahur, ini juga cara kami menjaga tradisi yang sudah ada sejak lama,” kata Ceceng, salah seorang remaja yang turut berpartisipasi.

- Advertisement -

Lebih dari sekadar fungsi praktisnya, Kentrong menjadi simbol kebersamaan warga Parungsari.

Saat suara kentongan bergema di penjuru kampung, warga yang terbangun tidak hanya bersiap untuk sahur tetapi juga merasakan kedekatan dengan sesama.

Bahkan, tak sedikit warga yang sudah terbiasa bangun sebelum suara Kentrong terdengar.

Bagi mereka, tradisi ini telah menjadi bagian dari ritme Ramadhan yang selalu dinantikan setiap tahunnya.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan serba digital, Kentrong tetap bertahan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.

Para remaja yang terlibat dalam tradisi ini merasa bangga bisa meneruskan warisan yang telah dijalankan secara turun-temurun.

“Kami senang bisa berkontribusi dalam menjaga tradisi ini, apalagi jika hal itu bisa membantu warga kampung kami untuk tetap menjalankan ibadah sahur,” tambah Ceceng.

Keunikan Kentrong juga kerap menarik perhatian warga luar yang kebetulan melintasi kawasan Parungsari.

Tak jarang, mereka terkesan dengan semangat gotong royong anak-anak muda dalam menjaga kebiasaan baik ini.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Kentrong menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya lokal tetap bisa hidup dan berkembang.

Bagi warga Parungsari, Kentrong bukan hanya sekadar cara membangunkan sahur, tetapi juga cerminan eratnya hubungan sosial di lingkungan mereka.

“Semoga tradisi ini tetap bertahan dan tidak hilang begitu saja,” harap warga, menyiratkan keinginan agar Kentrong tetap menjadi bagian dari identitas kampung mereka di tahun-tahun mendatang. (GaluhID/Diana)

- Advertisement -
Berita Terbaru

Muscab VI PAN Ciamis Perkuat Konsolidasi, DPW Dorong DPC Aktif Bangun Relawan

DPC Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Ciamis mengadakan Musyawarah Cabang VI untuk konsolidasi organisasi menjelang Pemilu 2029. Ketua DPD, Drs. H. Komar Hermawan, menyatakan pentingnya kantor partai untuk meningkatkan kekompakan dan perolehan suara. Ketua Harian DPW, Ir. Herry Dermawan, menekankan perlunya ketua DPC aktif dan berani mencalonkan diri.

Artikel Terkait