oleh

Ketua HIPMI Siap Ongkosi Ridwan Saidi ke Ciamis

Hubungi
 
 

Berita Ciamis, galuh.id – Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Ciamis, Nur Muttaqin siap untuk memberi ongkos ke Ridwan Saidi ke Ciamis.

“Iya, kami siap untuk memberikan ongkos buat Babe Ridwan Saidi supaya datang ke Ciamis,” ujar Nur Muttaqin, di Kantornya, Jumat (14/2).

Loading...

Dia juga mengungkapkan, dirinya merasa terusik saat mendengar perkataan Ridwan Saidi yang mengartikan Galuh brutal. Meskipun Ridwan Saidi menjelaskan bahwa arti negatif itu berasal dari bahasa Armenia.

“Semoga dengan datangnya ke Ciamis dapat lebih menjelaskan apa maksud dari pernyataan Ridwan Saidi. Selain itu, sebagai keilmuan juga bagi masyarakat Tatar Galuh,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan Ridwan Saidi saat diwawancara melalui sambungan telepon, keukeuh dengan pemikirannya bahwa Kerajaan Galuh itu tidak ada.

“Bukti-buktinya itu kan tidak meyakinkan, nama Galuh sendiri berasal dari Armenia yang artinya negatif, tidak usah lah saya sebutkan artinya. Masa sebuah kerajaan dinamai dengan arti yang negatif,” terang Saidi.

Menurut dia, ada atau tidaknya sebuah kerajaan itu dilihat dari indikator ekonominya. Darimana pendapatan kerajaan itu untuk membiayai kehidupannya.

Indikator ekonomi terdiri dari beberapa faktor. Diantaranya, kerajaan memiliki tambang emas. Faktor lainnya mempunyai pelabuhan komersil sebagai penunjang ekonomi kerajaan.

“Ciamis kan tidak punya tambang emas dan pelabuhan komersil, kalau tidak ada penghasilan, bagaimana untuk menghidupi kerajaan,” katanya.

Menurut dasar pemikirannya, Sunda Pakuan itu kavelarinya empat ribu ekor kuda, bagaimana cara membiayainya kalau tidak punya emas, tidak ada income.

“Kalau Ciamis cuma punya keris-keris, bagaimana caranya membuktikan bahwa kerajaan Galuh itu ada,” ujarnya.

Terkait situs yang ada di Karangkamulyan pun menurutnya tidak bisa menjadi bukti adanya kerajaan. Karangkamulyan kata Ridwan Saidi berarti tempat yang terhormat, sedangkan Astana Gede itu artinya Pusat Kota Baru.

Ketimbang berbicara masalah kerajaan yang sulit dibuktikan, Ridwan Saidi alih-alih menyarankan Ciamis agar fokus pada stone monumen yang ada di Kecamatan Lumbung.

“Batu Susun Rompe di Lumbung itu adalah Stone Monument Paraiangan yang berasal dari abad ke-5 masehi, di situ membuktikan bahwa persawahan/pertanian Ciamis pada abad ke-5 itu sudah maju dan berkembang. Fokus saja ke sana daripada soal kerajaan,” ujarnya.

Ridwan Saidi ke Ciamis Minta Ongkos ke Bupati

Saat disinggung mengenai permintaan masyarakat Ciamis agar Ridwan Saidi ke Ciamis, dia mengaku siap jika diundang secara resmi ke Ciamis.

“Masalahnya, siapa yang mau bayarin? Masa harus ongkos sendiri, di Ciamis kan ada bupatinya yang berkepentingan, undang saya, dan saya akan atur waktunya,” tukas Ridwan Saidi, melalui telepon, Kamis (13/02/2020). (GaluhID/Arul)

loading...

Penulis : Redaksi GaluhID

Galuh.ID terbangun dari tidur yang panjang soal keberadaan berita hoax yang semakin hari semakin meresahkan.

Komentar

BERITA SELANJUTNYA