Galuh ID – Pertanyaan tentang mana yang lebih berbahaya antara rokok dan vape (rokok elektrik) sering muncul seiring meningkatnya popularitas vape, terutama di kalangan anak muda. Banyak yang menganggap vape sebagai alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Namun, benarkah demikian?
Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Kab PN Brebes (pafikabpnbrebes.org) memberikan jawaban atas pertanyaan mana yang lebih berbahaya, rokok atau vape?
Menurut PAFI, Rokok Konvensional mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, termasuk zat karsinogenik seperti tar dan karbon monoksida. Bahan-bahan ini terbentuk dari proses pembakaran tembakau. Efek jangka panjangnya sudah terbukti secara ilmiah: meningkatkan risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, bronkitis kronis, dan berbagai gangguan pernapasan.
Sementara itu, vape bekerja dengan cara memanaskan cairan (liquid) yang mengandung nikotin, perasa, dan zat kimia lainnya menjadi uap. Vape memang tidak menghasilkan asap dan tar seperti rokok, tetapi itu bukan berarti bebas risiko.
Baca Juga: Cara Berhenti Merokok, Coba Tips Efektif Ini!
Penelitian menunjukkan bahwa uap vape tetap mengandung zat berbahaya seperti formaldehida, logam berat (seperti timbal dan nikel), dan senyawa kimia iritan. Selain itu, nikotin dalam vape tetap bersifat adiktif dan berpotensi mengganggu perkembangan otak, terutama bagi remaja dan dewasa muda.
Beberapa kasus penyakit paru-paru akut (seperti EVALI) yang terkait dengan penggunaan vape juga telah dilaporkan. Meskipun sebagian besar dikaitkan dengan cairan vape ilegal atau mengandung THC, hal ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari vape belum sepenuhnya dipahami dan bisa serius.
Jadi, mana yang lebih berbahaya? Keduanya berisiko tinggi bagi kesehatan, hanya saja dalam cara yang berbeda. Rokok telah terbukti sangat mematikan, sementara vape mungkin memiliki risiko yang lebih rendah dalam jangka pendek, tetapi efek jangka panjangnya masih belum sepenuhnya diketahui.
Kesimpulannya, vape bukan solusi sehat, dan rokok bukan pilihan aman. Jika memungkinkan, pilihan terbaik adalah tidak menggunakan keduanya dan memulai gaya hidup bebas nikotin demi kesehatan jangka panjang. (GaluhID)
