CIAMIS, galuh.id – Septyan Mulyana, petani muda asal Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, berhasil membudidayakan semangka di lahan kering yang sebelumnya kurang produktif. Dari lahan seluas 110 bata, ia memperkirakan potensi panennya mencapai 3 ton.
Panen semangka tersebut berlangsung pada Sabtu (24/10/2026). Keberhasilan ini menunjukkan bahwa lahan yang menghadapi keterbatasan air tetap berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian melalui teknik budidaya yang tepat.
Kepala Desa Handapherang, Tantan Sontani, S.H., mengapresiasi keberhasilan Septyan. Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi contoh bahwa kreativitas dan kemauan generasi muda dapat membuka peluang ekonomi di sektor pertanian.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Desa Handapherang, saya memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Saudara Septyan atas keberhasilannya dalam panen raya semangka ini,” ujarnya.
Tantan berharap keberhasilan tersebut dapat memotivasi pemuda lainnya untuk mengoptimalkan lahan yang kurang produktif sehingga mampu menjadi sumber pendapatan masyarakat.
Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mendorong pengembangan pertanian lokal. Menurutnya, potensi lahan desa dapat dimanfaatkan secara lebih optimal melalui kemauan masyarakat dan kerja sama berbagai pihak.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua RW 06, Taufan Nugraha. Ia menilai keberhasilan Septyan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di lingkungannya untuk berani mencoba usaha di bidang pertanian.
Menurut Taufan, kemampuan Septyan mempelajari budidaya semangka secara otodidak menunjukkan bahwa keterbatasan lahan dan minimnya curah hujan dapat dihadapi melalui inovasi dan kemauan untuk belajar.
Ke depan, ia berencana menjalin komunikasi dengan pemerintah desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta kelompok tani guna mendorong pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini kurang produktif.
“Keberhasilan ini bisa menjadi pemicu bagi pemuda lainnya. Kami ingin ilmu yang dimiliki Septyan dapat dibagikan kepada petani muda agar semakin banyak lahan kering yang bisa dimanfaatkan,” kata Taufan.
Selain meningkatkan produksi pertanian, Taufan melihat peluang pengembangan kebun semangka sebagai destinasi wisata petik buah. Gagasan tersebut diharapkan dapat menarik pengunjung dari luar daerah sekaligus menggerakkan perekonomian warga, khususnya di lingkungan Lembur Pasir.
Ia juga mendorong penjajakan dukungan permodalan melalui BUMDes dan lembaga keuangan, termasuk Perumda Bank Galuh, agar pengembangan usaha pertanian serupa dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.
Sementara itu, Septyan Mulyana mengungkapkan bahwa ide menanam semangka berawal dari saran seorang teman. Ia kemudian mencoba membudidayakan tanaman tersebut bersama keluarganya, dengan dukungan motivasi dari lingkungan sekitar.
Sekitar 60 hari setelah penanaman, Septyan memperkirakan hasil panennya mencapai 3 ton dari sekitar 1.200 tanaman yang dibudidayakan di lahan seluas 110 bata.
Untuk memulai usaha tersebut, ia mengeluarkan modal sekitar Rp8 juta. Adapun harga jual semangka diperkirakan berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000 per kilogram, bergantung pada kondisi dan harga pasar.
Ke depan, Septyan berpeluang memperluas area tanam apabila tersedia dukungan lahan dan kesempatan untuk mengembangkan usahanya.
Keberhasilan Septyan menjadi gambaran potensi pertanian desa yang dapat dikembangkan melalui inovasi dan ketekunan. Pemanfaatan lahan kurang produktif diharapkan tidak hanya membuka peluang usaha bagi petani muda, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di tengah tantangan kekeringan.
