oleh

Perpustakaan Kelamin dan Manusia Pembelajar

 
 

Opini, galuh.id – Apa menariknya aktivitas membaca dan berdiskusi?

Seseorang yang keranjingan bergelut dengan buku dan berdebat tentang hal-hal yang melangit, seolah menjadi tak bermakna jika pada realitasnya masih saja kelabakan dalam menentukan orientasi hidup. Apalagi motivasi belajarnya hanya mengejar ranking kelas semata.

Semasa duduk di bangku Madrasah Aliyah, SMA sederajat, saya sangat anti terhadap orang-orang seperti itu. Pasalnya, pada praktiknya pengetahuan tidak berbanding lurus dengan kenyataan.

Hafal terkait teori A sampai Z. Namun ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan hidup, sekedar menelaah akar masalah saja mereka bingung bagaimana cara mengatasinya.

Paradigma yang berakibat pelabelan negatif terhadap orang-orang seperti di atas begitu mengkristal dalam batok kepala saya. Tepatnya sampai menduduki bangku kuliah. Cukup setengah semester di awal.

Karena masa kejumudan berpikir itu tak berlangsung lama. Beranjak semester dua, saya mulai mendapat bercak-bercak pencerahan.

Tradisi ilmiah yang diwarnai oleh sebagian aktivis dengan genit memikat libido intelektual saya yang sempat terkubur di dalam palung rasa malas dan kedengkian.

Saya bersyukur karena dalam satu kesempatan pernah bertemu dengan salah seorang kakak tingkat yang baik. Konon, ternyata ia aktivis HMI. Ia memberi saya buku dengan judul yang erotis. Memikat syahwat.

Ya, judul buku itu “Perpustakaan Kelamin”. Sebuah buku novel yang bergenre petualangan. Sebagian orang mungkin mempersepsikan bahwa Perpustakaan Kelamin ialah seluruh rak lemari layaknya di Perpus namun dipenuhi oleh kelamin-kelamin yang bergantungan.

Membayangkannya saja geli. Apalagi kalau kita masuk ke dalam perpustakaan itu. Mungkin kita akan mengetahui jenis kelamin manusia dari zaman Nabi Adam hingga blue print kelamin manusia di masa depan. Unik bukan? Katakan saja sebagai bagian dari seks edukasi jika memasukinya.

Atau bisa saja, para pekerja seks komersial, perempuan dan lelaki yang gemar kumpul kebo dalam sebuah perpustakaan. Bisa jadi?

Ternyata bayangan saya jauh sama sekali dengan isi buku tersebut. Menurut kakak tingkat itu, buku Perpustakaaan Kelamin membawa pembacanya menjadi cinta akan keagungan ilmu melalui buku-buku.

Disini pertanyaannya tentu alur yang bagaimana sehingga pembaca itu menjadi cinta terhadap buku.

Di samping kecintaan akan ilmu, fase mahasiswa memang mesti tetap konsisten dalam semangat mencari kebenaran. Jangan terjebak dalam rutinitas seremonial seperti pengejaran nilai IPK dan lulus lebih cepat selanjutnya mendapat kerja.

Kebutuhan membaca menjadi sempit, karena terpaku dengan buku yang ada sangkut pautnya dengan perkuliahan saja. Waktu untuk membaca buku-buku di luar kuliah kurang disisihkan. Padahal mahasiswa mesti kaya akan wawasan.

Kondisi demikian adalah dampak dari sistem pendidikan di kampusnya yang salah. Novel Perpustakaan Kelamin menghadirkan sebuah cerita para pengagum ilmu dan menyinggung juga sistem pendidikan yang bebal.

Melalui buku Perpustakaan Kelamin, perubahan pola pikir saya berubah drastis, kegemaran akan membaca mulai tumbuh dalam diri. Dan memaknai tentang aktivitas membaca ternyata ada alasan tersendiri mengapa seseorang itu candu terhadap buku.

Saya jadi teringat apa yang Mbak Nana-Nazwa Shihab-katakan. Jika kau ingin gemar membaca buku, temukan salah satu buku yang dapat membuatmu jatuh cinta terhadap aktivitas membaca. Karena novel Perpustakaan Kelamin saya mulai mencintai buku.

Tantangan selanjutnya menjadi menarik, diakui atau tidak, sistem kampus saat ini membuat mahasiswa berpikir instan. Kita bisa saksikan, tidak sedikit mahasiswa yang jarang menyempatkan dirinya untuk diskusi mendalam agar terasah kemampuan nalarnya.

Seolah di kampus itu tumbuh semacam kemalasan untuk berpikir berat dan mendalam. Contohnya, mahasiswa lebih mudah menelan ihwal yang bersifat permukaan. Budaya konsumsi misal. Sedang untuk menyelami landasan gerakan budaya dibalik budaya konsumsi tersebut minatnya masih kurang.

Kelamin dalam Pertaruhan

Buku novel yang diberikan kepada saya mengisahkan tentang Hariang, tokoh utama yang diperkenalkan kepada dunia buku oleh ibunya secara tidak lazim. Namun, dengan cara tersebut ia menjadi sangat mencintai buku.

Bagaimana cara ibunya menumbuhkan cinta akan buku kepada putranya?
Ibunya menyimpan seluruh buku dalam sebuah ruangan terkunci dan putranya sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di balik pintu tersebut.

Saat Hariang berusia 20 tahun, ibunya membuka kamar rahasia-sebuah perpustakaan dengan koleksi buku yang jumlahnya ratusan ribu-Ada alasan khusus mengapa ibunya melakukan itu.

Agar Hariang selalu penasaran-mau berusaha untuk selalu ingin tahu lewat membaca-dan agar kerinduan yang memuncak itu akhirnya terbalaskan ketika waktunya tiba.

Di sisi lain juga, Hariang aktif di komunitas Pasukan Anti Kuliah (Paku) yang berisi orang-orang drop out dan kecewa pada sistem pendidikan.

Komunitas ini aktif melakukan diskusi dan mengkaji beragam buku. Di sinilah Hariang mengalami suatu perjalanan intelektual.

Konflik semakin menjadi saat Hariang mengalami sebuah ujian, perpustakaan yang telah lama dibangun oleh ibunya itu habis dilalap si jago merah, hingga rata dengan tanah.

Pada saat itulah, kejiwaan ibunya mulai terganggu bahkan bisa dibilang ibunya menjadi gila. Hariang telah mengobati ibunya ke segala tempat pengobatan, tetapi kesehatan ibunya tidak beranjak pulih.

“Kini ibuku selalu telanjang. Tubuhnya kerap berlumur kotorannya sendiri, dan dibasahi oleh air kencingnya. Matanya sesak oleh luka, dihantam sepi. Tak ada lagi rona, tak ada detak, tak ada gairah, tak ada rasa, tak ada hidup, hanya siksa!

Ribuan buku yang ia kumpulkan selama 19 tahun di ‘Perpustakaan Kadeudeuh’, tiba-tiba melebur hancur oleh sebuah peristiwa kebakaran.

Akibat kejadian ini, kecerdasan dan kemanusiaan ibu luluhlantak dengan sekali pukul. Ibu telah tenggelam dalam keadaan yang lebih mengerikan daripada kematian”.

Hariang sempat membanting tulang, membeli buku sedikit demi sedikit, tapi ibunya tak kunjung membaik, sebab perpustakaan tak kunjung terbangun.

Kemungkinan yang terlalu kecil jika mengumpulkan buku sebanyak yang ibunya kumpulkan.

Hingga akhirnya Hariang tertegun mengingat Kang Ulun yang sempat menawarkan imbalan 1,5 miliar bagi seseorang yang bisa mendonorkan kelaminnya.

Apakah Hariang memiliki keberanian untuk mengorbankan masa depannya, kelamin nya sendiri demi membangun kembali perpustakaan itu?

Memang awalnya Hariang sempat ragu, ia melakukan ikhtiar terlebih dahulu untuk menawarkannya kepada orang lain.

Hasilnya tetap nihil. Tidak ada seseorang pun yang rela mengorbankan kelaminnya hanya untuk mendapat uang miliaran rupiah.

Dalam perjalanannya mencari pendonor kelamin, Hariang ingat petuah ibunya.

“Kamu harus selalu ingat, buku adalah peradaban tertinggi umat manusia. Peradaban kita adalah peradaban buku. Demi peradaban itu, kamu jangan pernah meminta. Jangan pernah! Kalau perlu, lakukanlah pengorbanan demi mendapat sebuah buku!”  (hlm. 14).

Pengorbanan. Sekali lagi pengorbanan. Petuah itulah yang menjadi titik balik keberanian Hariang. Demi memulihkan kembali kesehatan ibunya dan membangun kembali simbol peradaban, ia memberanikan diri agar ia saja yang menjadi seorang pendonor kelamin.

Alur cerita itulah yang betul-betul menampar saya. Dari mulai pola didik orang tua tentang minat belajar. Lalu pengorbanan habis-habisan seorang Hariang demi keberlangsungan tradisi keilmuan.

Hal yang lebih menarik lagi, saat ibunya membahas bahwa keberhasilan proses pendidikan ialah ketika seseorang tertanam semangat mencari pada relung hatinya. Sebab itulah yang akan memotivasi dirinya agar senantiasa belajar. Menjadi manusia pembelajar.

Terdapat sebuah penafsiran yang saya jadikan jawaban untuk keresahan saya dulu sebelum mengenal apa itu konsep pendidikan yang semestinya. Serta memaknai para manusia yang melulu bergelut dengan buku. Ternyata tidak sedangkal apa yang saya pikirkan.

Proses pendidikan atau pembelajaran bukan hanya berlandaskan secara formal saja. Membaca dan belajar di kelas. Pola pikir tersebut sangat beku, dan itu yang saya alami hingga akhirnya saya sangat anti terhadap orang-orang kutu buku.

Belajar, sejatinya ialah dimana saja. Dari proses apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, lalu apa yang kita lakukan. Dari sana kita akan memahami tidak ada dikotomi ilmu antara pengetahuan yang bersifat teoritis dan praktis. Sebab konsep pendidikan hasilnya mesti mempengaruhi setiap tindakan kita sehari-hari.

Saya sangat terilhami oleh kisah mengenai kelamin yang dikorbankan demi peradaban itu.

Tantangan Manusia Pembelajar

Kembali kita elaborasi mengenai sistem pendidikan yang terjadi nyatanya bukan menciptakan manusia pembelajar, melainkan hanya menciptakan manusia mesin yang disiapkan untuk spektrum industri semata.

Said Muniruddin melalui buku Bintang ‘Arasy mengurai sejumlah kelemahan kampus. Sarjana yang terlahir di kampus yang ada hanya menjadi intelektual yang mengalami disorientasi hidup.

Akibat kampus yang tidak becus mengelola dirinya, kualitas anak didik jadi terabaikan. Banyak lulusan perguruan tinggi sering tidak berkualitas. Pengetahuan dan keterampilannya rendah. Kemampuan kepemimpinan dan moralitasnya lemah.

Mahasiswa diarahkan untuk memenuhi pasar-pasar tenaga kerja dengan berbagai pilihan rating gaji. Akibatnya, di bawah alam sadar mahasiswa, secara perlahan tertanam, bahwa uang (materi) menjadi satu-satunya tujuan. Betul-betul ngeri.

Hannah Arendt, seorang filsuf wanita dari Jerman, memperkenalkan sebuah tinjauan filosofis melalui Banalitas Kejahatan (1963). 
Banalitas, yang secara etimologis berati menganggap biasa atau memaklumi.

Banalitas ini jika ditarik dalam dunia pendidikan, khususnya di kampus, ialah suatu kondisi kebanyakan mahasiswa mengamini terhadap sistem pendidikan yang ada. Mereka seolah merasa baik-baik saja. Yang penting cepat lulus dan manut kepada dosen.

Jika kondisinya seperti itu, sikap apa yang mesti dilakukan?

Hal yang paling mendasar adalah meredefinisi konsep dan peran kampus. Serta menciptakan iklim dengan ghirah manusia pembelajar. Saya mendapat jawaban itu atas fenomena dari kisah novel perpustakaan kelamin di atas.

Said Muniruddin mengemukakan bahwa periode mahasiswa merupakan masa pembentukan profesionalisme keilmuan serta pencarian jati diri. Dari sanalah dapat terbentuk watak independensi (hanief) bahkan juga jiwa pragmatis.

Melaui perguruan tinggi, amanah melahirkan kaum intelek tercerahkan menjadi tanggung jawabnya.

Dari kampus diharapkan lahir pemimpin-pemimpin yang berkarakter, cerdas, kreatif-inovatif dan mampu memenej berbagai sektor kehidupan bangsa.

Oleh sebab itu, kampus merupakan tempat yang paling diharapkan untuk melahirkan manusia-manusia sempurna (insan kamil).

Sebuah alternatif banyak di tawarkan oleh komunitas-komunitas lain. Secara formal, untuk menjawab tantangan tersebut, bermunculan lah organisasi eksternal kampus.

Mereka melakukan kontra narasi yang elegan. Katakanlah, salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat menjadi HMI.

Organisasi tersebut bukan sekedar organisasi yang bersifat pembinaan kepada mahasiswa, melainkan-menurut Azhari Akmal Tarigan-bisa disebut sebagai manhaj keilmuan.

Terdapat lagi komunitas lain yang bersifat non-formal. Anda tengok saja di pinggiran kota, selalu ada aktifitas kelas bagi kaum marjinal, contohnya kelas anak jalanan.

Apapun kondisinya, bangsa yang berkualitas ialah yang dibangun oleh rakyat dan pemimpin yang berkualitas.

Manusia pembelajar ialah salah satu indikator dari sumber daya manusia yang unggul. Jika sudah demikian, Murtadha Muthahhari sering menyebutnya dengan masyarakat epistemokrasi.

Penulis: Ade Maulana Sidik

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA