Galuh ID – Rasa kantuk berlebihan atau mengantuk sepanjang hari, meskipun sudah cukup tidur di malam hari, dapat menjadi gejala penyakit atau adanya gangguan kesehatan. Kondisi ini, yang disebut sebagai hipersomnia, bisa disebabkan oleh berbagai faktor medis, psikologis, maupun gaya hidup.
Menurut Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI) Bombana Kab (pafibombanakab.org), salah satu penyebab paling umum adalah kurang tidur berkualitas, meskipun durasinya cukup.
Gangguan seperti sleep apnea (henti napas saat tidur) dapat menyebabkan tidur yang terputus-putus sehingga tubuh tidak mendapatkan istirahat optimal.
Akibatnya, penderita tetap merasa lelah dan mengantuk di siang hari. Sleep apnea sering ditandai dengan mendengkur keras dan terbangun mendadak karena sesak napas.
Kelelahan kronis juga bisa disebabkan oleh anemia, yaitu kekurangan sel darah merah yang membuat oksigen tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh tubuh, termasuk otak. Ini menyebabkan penderita mudah lelah dan mengantuk. Diabetes juga bisa menyebabkan kantuk berlebihan akibat fluktuasi kadar gula darah.
Baca Juga: Cara Mencegah Gagal Ginjal pada Anak, Lakukan Sejak Dini
Penyakit hipotiroidisme (tiroid kurang aktif) adalah penyebab lainnya. Hormon tiroid yang rendah memperlambat metabolisme tubuh, membuat penderitanya merasa lesu, dingin, dan mengantuk terus-menerus. Gagal ginjal dan gangguan hati juga dapat menimbulkan rasa kantuk akibat penumpukan racun dalam tubuh.
Dari sisi mental, depresi dan gangguan kecemasan sering menyebabkan kelelahan mental dan fisik, disertai gangguan tidur yang membuat penderitanya merasa selalu mengantuk. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antihistamin, obat penenang, atau antidepresan, juga bisa menimbulkan efek samping berupa kantuk.
Penting juga untuk mewaspadai gejala penyakit narkolepsi, gangguan neurologis langka yang menyebabkan selalu mengantuk tiba-tiba di siang hari. Bahkan saat sedang beraktivitas.
Jika seseorang merasa selalu mengantuk tanpa penyebab yang jelas, disarankan untuk konsultasi ke dokter guna evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan darah, studi tidur (polysomnography), dan penilaian kondisi psikologis mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab pastinya. (GaluhID)
