CIAMIS, galuh.id – Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan defisit fiskal, Kabupaten Ciamis terus menunjukkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Menurut Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, keberhasilan tersebut bukan ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan kekuatan gotong royong, swadaya, dan partisipasi aktif masyarakat yang salah satunya diwujudkan melalui gerakan koperasi.
Hal itu disampaikan Herdiat saat menghadiri kegiatan Syukuran Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 yang digelar di Gedung Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kabupaten Ciamis, Sabtu (18/7/2026).
Dalam sambutannya, Herdiat mengungkapkan kondisi keuangan daerah yang saat ini masih menghadapi keterbatasan. Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama masyarakat untuk terus berprestasi.
Sebagai contoh, Herdiat menyoroti keberhasilan Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, yang berhasil meraih juara pertama pada kompetisi tingkat Jawa Barat, mengungguli daerah-daerah besar seperti Kota Depok, Bekasi, Bogor, hingga Bandung.
“Kelurahan Sindangrasa itu anggarannya hanya sekitar Rp280 juta dalam setahun. Sementara peserta lain rata-rata memiliki anggaran lebih dari Rp4 miliar. Namun kita mampu menjadi juara pertama tingkat Jawa Barat. Ini bukti bahwa daya juang dan gotong royong masyarakat menjadi kekuatan utama,” ujar Herdiat.
Ia menjelaskan, jika seluruh bentuk swadaya masyarakat, mulai dari gotong royong pembangunan hingga kegiatan sosial dan keagamaan dihitung secara ekonomi, nilainya bahkan mencapai lebih dari Rp4 miliar.
Selain itu, Herdiat juga mengungkapkan keberhasilan Kabupaten Ciamis meraih juara pertama dalam Lomba Kebersihan Sri Baduga Makuta Binokasih tingkat Jawa Barat yang mengantarkan daerah tersebut memperoleh hadiah sebesar Rp15 miliar.
Menurutnya, prestasi itu diraih bukan karena besarnya belanja pemerintah, tetapi berkat kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Di daerah lain ada yang menghabiskan hingga Rp250 miliar untuk mesin pengolah sampah. Sementara di Ciamis, sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan hingga di bawah 20 persen karena masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah. Inilah kekuatan kebersamaan masyarakat Ciamis,” pungkasnya. (GaluhID/Tegar)
