TASIKMALAYA, galuh.id – Video seorang ibu muda yang mengamuk di sebuah SPBU viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di SPBU Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.
Dalam video yang beredar, ibu tersebut terlihat marah lantaran tidak mendapatkan bahan bakar setelah beberapa kali mengantre. Ia mengaku kesal karena membutuhkan BBM untuk mengantarkan anaknya yang sedang sakit berobat ke Kota Tasikmalaya.
“Geus tilu kali antri aing ieu rek indit ka Tasik mawa budak gering. Yeuh mobil urang geus tilu kali antri panjang teu kabagean bensin. Antri panjang tadi ieu jalikeun masih antri. Aing tilu kali lain ukur sakali,” ucap ibu tersebut dalam video.
Kapolsek Cipatujah Kompol Supian membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, kejadian bermula ketika ibu tersebut hendak membeli bahan bakar di SPBU.
Saat itu, ibu tersebut sempat masuk dalam antrean. Namun, ia kemudian keluar dari antrean. Beberapa waktu kemudian, ia kembali ke SPBU, tetapi stok bahan bakar sudah habis.
“Dia sempat ikut antre, namun kembali keluar antrean. Beberapa waktu kemudian datang lagi ke SPBU, namun sudah habis,” ujar Kompol Supian, Selasa (11/8/2026).
Video tersebut kemudian viral di media sosial. Menanggapi hal itu, pihak kepolisian langsung melakukan mediasi antara ibu tersebut dengan pihak SPBU.Hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dan saling memaafkan.
“Kami sudah memediasi kedua belah pihak. Pihak SPBU dan ibu yang bersangkutan sudah saling memaafkan,” kata Supian.
Supian juga menjelaskan kondisi antrean di SPBU saat kejadian. Menurutnya, saat itu terdapat antrean jeriken yang digunakan para nelayan untuk membeli BBM sebagai kebutuhan melaut.
Hal tersebut terjadi lantaran di kawasan Cipatujah belum terdapat SPBU khusus bagi nelayan. Akibatnya, para nelayan memanfaatkan SPBU yang ada untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.
“Jeriken ini milik para nelayan yang mengisi bahan bakar. Nelayan belum memiliki SPBU khusus sehingga memanfaatkan SPBU satu-satunya di kawasan ini untuk kebutuhan bahan bakar,” ujarnya.
Supian memastikan keberadaan jeriken tersebut bukan bagian dari praktik penimbunan BBM.Selain milik nelayan, sebagian jeriken juga digunakan oleh pelaku usaha kecil yang menjual bensin secara eceran di daerah yang tidak memiliki SPBU.
“Jadi mayoritas itu jeriken nelayan. Ada juga yang milik penjual eceran. Dari pelosok Cipatujah bahkan ada dari Bojonggambir yang membeli untuk pasokan bensin di daerah yang tidak ada SPBU. Jadi kalau narasi ada penimbunan itu dipastikan tidak benar,” pungkasnya.
Kepolisian mengimbau masyarakat agar bijak dalam menyikapi dan menyebarkan informasi maupun video yang beredar di media sosial. Masyarakat diminta tidak langsung mengambil kesimpulan sebelum mengetahui fakta sebenarnya terkait peristiwa tersebut.(GaluhID/Tegar)
