20 Sepuh Ikuti Amengan Sepuh di Pesantren Darussalam

Baca Juga
- Advertisement -
- Advertisement -

CIAMIS, galuh.id – Suasana berbeda terasa di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis. Sebanyak 20 orang lanjut usia (lansia) yang mayoritas merupakan pensiunan pejabat dari Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar, kembali merasakan suasana kehidupan pesantren melalui program Santri Kilat yang diberi nama Amengan Sepuh.

Kegiatan tersebut berlangsung selama sehari semalam, mulai Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026). Para peserta tidak hanya datang untuk bersilaturahmi, tetapi juga mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan dan pembinaan diri dengan bermukim selama satu malam di Wisma Ikada (Ikatan Alumni Darussalam).

Program Amengan Sepuh digagas atas inisiatif Ketua DPRD Ciamis H. Nanang Permana bersama Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Ang Icep.

Secara harfiah, Amengan Sepuh atau ulin kolot dapat dimaknai sebagai permainan orang tua. Namun, istilah tersebut memiliki makna yang lebih dalam, yakni rekreasi atau perjalanan bagi para sepuh menuju kegiatan yang lebih bermanfaat, baik secara fisik maupun rohani.

- Advertisement -

Amengan Sepuh menjadi ruang bagi para lansia untuk kembali menyegarkan diri, memperkuat keimanan, sekaligus menyempurnakan praktik ibadah yang selama ini telah mereka jalankan.

Kegiatan gelombang pertama dibuka pada Jumat (4/9/2026) seusai Kuliah Subuh. Sebelum mengikuti rangkaian kegiatan pesantren, para peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan tim medis Pos Kesehatan Pesantren Darussalam Ciamis.

Pengasuh Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, mengatakan jumlah peserta pada gelombang pertama dibatasi sebanyak 20 orang karena menyesuaikan dengan fasilitas kamar yang tersedia.

“Amengan Sepuh ini pada gelombang pertama baru bisa diikuti 20 orang karena fasilitas kamar yang ada untuk 20 orang,” ujar Ang Icep.

- Advertisement -

Ia menjelaskan, materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut tidak dibuat berat. Para peserta justru diajak kembali mengingat dan menyempurnakan hal-hal sederhana yang selama ini sudah biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak ada materi yang berat, materinya ringan-ringan dan sederhana, untuk menyempurnakan apa yang sudah biasa dilakukan orang tua,” katanya.

Salah satunya adalah penyempurnaan tata cara wudu dan salat. Selain kegiatan keagamaan, para peserta juga mendapatkan aktivitas fisik ringan yang disesuaikan dengan kondisi usia.

“Sekadar memperbaiki yang biasa bapak-bapak lakukan. Seperti penyempurnaan tata cara wudu, salat. Lalu ada olahraga rileks santai, olahraga pernapasan untuk orang tua,” tutur Ang Icep.

Peserta Amengan Sepuh di antaranya mantan Sekretaris Daerah Kota Banjar H. Sodikin, mantan Direktur PDAM Ciamis H. Cece, mantan Asda Setda Ciamis H. Yasmin Sambas, mantan Kepala Dinas Pendidikan Ciamis H. Akasah, mantan Asda H. Ika, mantan Kepala Bappeda Kota Banjar H. Tommy Subagja, anggota DPRD H. Ganjar M. Yusuf, serta sejumlah sepuh lainnya yang pernah menduduki jabatan penting di Ciamis dan Kota Banjar.

Presiden Direktur PO Bus Gapuraning Rahayu, H. Roni Karno, juga turut menjadi peserta dalam kegiatan Santri Kilat Amengan Sepuh tersebut.

Ketua DPRD Ciamis H. Nanang Permana mengatakan, gagasan Amengan Sepuh bermula sekitar satu bulan sebelumnya ketika dirinya bersama sejumlah sepuh dan Ang Icep berdiskusi di Joglo Pesantren Darussalam.

Dari pertemuan tersebut muncul gagasan untuk membuat kegiatan yang secara khusus menjadi ruang bagi para sepuh untuk kembali belajar dan memperbaiki diri.

“Kalau kemarin kita salah karena tidak tahu wajar, tapi nanti setelah dikasih tahu salah, nah itu mengkhawatirkan. Kegiatan latihan ini untuk memperbaiki yang biasa dilakukan. Saya tidak merasa ibadah itu seadanya, bagaimana kata guru,” ujar Nanang.

Menurutnya, usia senja bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru pada fase kehidupan tersebut, seseorang perlu semakin memperhatikan kualitas ibadah dan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki diri.

“Paling tidak tujuan utamanya untuk memperbaiki diri. Kita bisa bersama-sama memperbaiki wudu dan salat yang biasa kita lakukan,” katanya.

Nanang juga berharap kegiatan tersebut dapat menghidupkan kembali suasana religius yang pernah ia rasakan ketika masih kecil.

Ia mengusulkan adanya materi nadhoman yang dahulu biasa dilantunkan di masjid antara waktu Asar dan Magrib.

“Waktu kecil saya sering mendengar itu di masjid. Saya rindu antara Asar dan Magrib ada alunan nadhom tauhid, seperti wujud, qidam, baqa,” tuturnya.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan dan bersilaturahmi, para peserta kemudian melaksanakan salat Jumat sebelum memasuki rangkaian kehidupan pesantren dan bermalam di kobong.

Bagi para peserta, Amengan Sepuh bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Program tersebut menjadi ruang untuk kembali merasakan atmosfer pesantren sekaligus melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup.

Ketua Lembaga Lansia Indonesia (LLI) H. Akasah mengaku bangga dapat menjadi bagian dari peserta Santri Kilat Amengan Sepuh.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi para lansia untuk tetap aktif dalam berbagai aktivitas yang mendukung proses penuaan yang sehat, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga kesehatan rohani dan kesejahteraan secara menyeluruh.

“Sebagai peserta bangga turut berpartisipasi dalam aktivitas yang berhubungan dengan berbagai komponen dari penuaan yang sehat, sehat rohani, dan meliputi kesehatan fisik dan well-being,” ungkap Akasah.

Amengan Sepuh pun menjadi semacam oase keimanan bagi para pensiunan. Di tengah kesibukan dan perjalanan panjang kehidupan, mereka kembali duduk sebagai santri, belajar bersama, beribadah bersama, dan mengingat kembali bahwa proses memperbaiki diri tidak mengenal batas usia.

- Advertisement -
Berita Terbaru

Gegara Puntung Rokok, Pabrik Pengolahan Kayu di Banjarsari Ciamis Terbakar

Sebuah pabrik pengolahan kayu di Ciamis terbakar pada Jumat dini hari tanpa korban jiwa. Kebakaran diduga disebabkan puntung rokok sembarangan. Petugas pemadam berhasil mengendalikan api, mengakibatkan kerugian material sekitar Rp5 juta. Pemilik pabrik diimbau lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran, terutama saat musim kemarau.

Artikel Terkait