oleh

Antisipasi Penonton Tanpa Tiket, Panpel PSGC Akan Gunakan Tiket Barcode di Stadion Galuh Ciamis

 
 

Semarang, galuh.id – Anda masih ingat dengan spanduk di depan pintu masuk Stadion Galuh Ciamis pada pertandingan 16 besar Liga 3 musim 2018? Spanduk yang bertuliskan “Meser tiket atuh ari teu isin mah?” itu dipasang untuk mengimbau para penonton agar masuk Stadion dengan membeli tiket terlebih dahulu. Spanduk itu terpasang bukan tanpa alasan, tercatat beberapa kali pertandingan PSGC, penonton terlihat banyak, tetapi hasil penjualan tiket sedikit. Hal tersebut mendorong Panpel PSGC melakukan inovasi.

Salah satu inovasi tersebut adalah dengan menggunakan tiket barcode untuk masuk ke Stadion Galuh Ciamis. Ide ini menurut Andang Firman, salah satu Panpel PSGC sudah ada sejak dulu. Keseriusan Panpel PSGC untuk menggunakan tiket barcode tersebut dibuktikan dengan melakukan studi banding ke Panpel PSIS Semarang pada Sabtu (26/01/2029) di Stadion Jati Diri, Semarang.

Andang Firman, ketua rombongan Studi banding mengatakan alasannya memilih PSIS Semarang karena terkesan ketika di pertandingan terakhir PSIS Semarang dan PSGC di Liga 2 musim 2017, Panpel PSIS sudah menggunakan tiket barcode.

“Terlihat simple, tapi mengena, itu ingin kita terapkan di Stadion Galuh, sehingga tidak ada lagi penonton yang lolos tanpa tiket,” kata Andang Firman.

Lebih lanjut Andang Firman mengatakan selama ini masih ada penonton yang mengajak keluarganya atau saudaranya yang bangga ketika menonton PSGC Ciamis di Stadion Galuh Ciamis tanpa tiket, “hal ini yang ingin kita ubah, targetnya kita sudah pakai tiket barcode ketika Liga 2 bergulir,” kata Andang Firman.

Sementara itu, Imanuel Anton dari Panpel PSIS Semarang mengatakan permasalahan penonton yang masuk tanpa tiket sudah dialami oleh mereka ketika masih memberlakukan tiket manual.

“Setelah PSIS dihukum karena sepak bola gajah itu, dan PSIS lolos ke Liga 2, kami mulai menggunakan tiket barcode untuk mengurangi personil panpel, mengurangi resiko lolosnya penonton,” kata Anton.

Menurut Anton dengan penggunaan sistem tiket barcode maka penonton hanya bisa masuk ketika men-scan tiketnya.

“Dengan tiket barcode sekali pakai ini, maka sekali scan tiket untuk satu kali buka pintu, jadi tidak akan ada lagi penonton yang lolos, apalagi misalnya memakai satu tiket untuk dua orang, kan banyak tuh yang bawa pasangan, maunya satu tiket saja, itu di kami dulu juga seperti itu,” jelas Anton.

Tetapi, menurut Anton, kelemahan sistem tiket bercode ini ada pada budaya penonton, “penonton yang datang itu kadang mepet-mepet waktu kick off, sehingga antrian panjang di depan pintu masuk akhirnya karena desak-desakan jebol lah itu pintu dan lolos lagi itu penonton, kadang ada oknum yang bermain juga agar pintu jebol,” terang Anton.

Tetapi, hal tersebut bisa diantisipasi dengan merangkul para suporter, kata Anton, karena jika suporter yang benar-benar fanatik mereka mengerti bahwa tiket itu berguna untuk mendukung finansial klub.

“Kami beri pengertian itu bahkan ketika tiket akan naik pun, kami bilang, bahwa kita sekarang di Liga 1 perlu beli pemain asing dan juga biaya-biaya lainnya,” kata Anton.

Ketika Stadion Jati Diri direnovasi, dan kandang PSIS pindah ke Magelang, maka Panpel PSIS bekerjasama dengan my tiket untuk pengadaan tiket barcode.

“Pertandingan home PSIS pindah ke Magelang, di sana kami tidak mungkin dan memang tidak diizinkan untuk memasang tunnel masuk tiket barcode tersebut, selain karena biayanya juga mahal, maka kami kerjasama dengan my tiket,” kata Anton.

Ditambahkan oleh Pujianto, Ketua Panpel PSIS Semarang, kelebihan dari my tiket ini, tiket tidak bisa dipalsu dan bisa dijual secara online.

“Sebisa mungkin penonton datang sudah memiliki tiket untuk mengurangi resiko, tidak jual tiket di lapangan itu lebih aman,” pungkasnya.

(K. Putu Latief)

Loading...
loading...

Penulis : K Putu Latief

Gambar Gravatar
Menulis untuk kepuasan, mengedit untuk kebahagiaan.

Komentar

BERITA SELANJUTNYA