Ciamis, galuh.id – Warga kurang mampu bernama Yeni (54) di Dusun Cibeureum RT 30 RW 07, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, mengalami sakit menahun hingga lumpuh dan tidak mampu beraktivitas sebagaimana biasanya.
Yeni tinggal di rumah sederhana bersama suami dan seorang anak perempuannya di atas tanah milik orang lain.
Suaminya, Asep, sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan cilok keliling menggunakan gerobak. Cilok yang ia jual pun merupakan titipan dari orang lain.
Mendengar adanya warga yang mengalami sakit bertahun-tahun tanpa pengobatan, Camat Banjarsari Mujiono bersama Kepala Desa Cibadak Margo Suwono langsung menjenguk.
Saat tiba di rumah Yeni, Mujiono dan Margo Suwono langsung menghampiri Yeni yang saat itu ditemani adiknya, Nur.
Keduanya tampak tak kuasa menahan haru melihat kondisi Yeni. Camat dan kepala desa kemudian memberikan tali asih serta berjanji akan membantu meringankan beban keluarga tersebut.
Mujiono menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi antara warga, RT, hingga pemerintah desa agar masyarakat yang membutuhkan bantuan dapat segera terdeteksi.
“Jadi ketika kurangnya membangun komunikasi, maka warga yang seharusnya mendapat bantuan tidak akan terdeteksi. Maka kami tekankan mulai dari warga, RT, dan pihak lainnya harus terjalin komunikasi,” ujarnya Selasa (12/05/2026).
Sementara itu, Kepala Desa Cibadak, Margo Suwono, mengaku kecewa karena tidak mengetahui ada warganya yang sakit bertahun-tahun tanpa penanganan maksimal.
“Secara pribadi saya kecewa, kenapa tidak ada yang memberi tahu saya. Apalagi beliau sampai dibawa ke rumah sakit dan dioperasi. Kalau tahu, biasanya kalau ada warga sakit suka diantar menggunakan mobil pak kuwu. Tapi kalau seperti ini saya tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.
Ia pun langsung memerintahkan kepala seksi pelayanan untuk mengecek desil keluarga Yeni dan memastikan keluarga tersebut layak mendapatkan bantuan sosial.
“Nah ini yang harus kita perjuangkan. Keluarga Bu Yeni saya yakin masuk kategori yang berhak dan layak mendapat bantuan sosial,” ucapnya.
Margo juga mengaku sudah lama mengenal Yeni, namun komunikasi terputus sejak Yeni pindah rumah.
“Saya dengan beliau sudah kenal lama. Namun sejak pindah rumah ke sini hilang kontak dan komunikasi. Dulu Bu Yeni suka ke rumah. Makanya saya begitu mendengar beliau sakit langsung menjenguk. Yang saya sesalkan kenapa tidak ada yang memberi tahu,” jelasnya.
Adik Yeni, Nur, mengatakan bahwa kakaknya sakit hampir dua tahun. Penyakit itu bermula saat Yeni terjatuh di halaman rumah.
“Begitu jatuh sebagian badannya kaki dan sempat hilang ingatan. Lalu dibawa ke rumah sakit Banjar. Tapi RS Banjar tidak mampu menangani kemudian rujuk ke Purwokerto. Setelah itu melakukan operasi pada bagian belakang kepala. Alhamdulillah ingatannya kembali normal,” tuturnya.
Namun setelah operasi, pengobatan tidak dapat berlanjut karena keterbatasan biaya.
“Seharusnya kakak saya terus mendapatkan pengobatan, namun karena keterbatasan biaya akhirnya pengobatan berhenti setelah operasi itu,” katanya.
Nur berharap kedatangan camat dan kepala desa dapat membuka jalan agar kakaknya kembali mendapatkan pengobatan yang layak.
“Saya berharap dengan datangnya Pak Camat dan Pak Kuwu, kakak saya bisa kembali mendapatkan pengobatan. Mudah-mudahan dengan rutin berobat penyakitnya bisa sembuh,” ujarnya.
Menurut Nur, selama ini keluarga Yeni belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, termasuk jaminan kesehatan.
“Tidak pernah ada bantuan apa pun dari pemerintah. Waktu berobat juga mandiri, tidak mendapat jaminan kesehatan,” pungkasnya. (GaluhID/Uus)
Editor: Evi
