Ciamis, galuh.id — Pemprov Jawa Barat menggelar kegiatan budaya Milangkala Tatar Sunda Nyuhun Bahun Nata Nagara sebagai upaya mengangkat kembali sejarah sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Ciamis, Budi Kurnia, menyebut kegiatan itu menghadirkan salah satu simbol penting peninggalan Kerajaan Sunda, yakni Mahkota Binokasih.
“Mahkota Binokasih ini setelah diuji di laboratorium memiliki kandungan emas sekitar 18,8 karat dan perkiraaan dibuat pada abad ke-14, sekitar tahun 1370-an,” ujar Budi, Senin (04/05/2026).
Ia menjelaskan, secara historis mahkota tersebut pernah berada di wilayah Kerajaan Galuh sebelum akhirnya kini tersimpan di Sumedang.
“Faktanya hari ini mahkota itu berada di Sumedang, meskipun sebelumnya sempat di Galuh dan kemudian berpindah,” jelasnya.
Kegiatan ini terinspirasi dari kejayaan Kerajaan Pajajaran dan dikemas dalam bentuk kirab budaya yang melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat. Pemerintah menilai, event semacam ini efektif dalam menarik kunjungan masyarakat.
“Kalau jalannya sudah bagus, alamnya indah, tetapi tidak ada yang datang, maka tidak ada manfaatnya. Karena itu, kami hadirkan event agar masyarakat tertarik berkunjung,” katanya.
Napak Tilas Pajajaran Kenalkan Sejarah Sunda
Menurutnya, kegiatan tersebut terbukti memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata. Tingkat hunian hotel dan homestay di sejumlah daerah seperti Sumedang dan Ciamis mengalami peningkatan selama kegiatan berlangsung.
Selain mendorong pariwisata, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan identitas budaya. Ia menilai Jawa Barat memiliki keragaman budaya yang tinggi, namun belum sepenuhnya terkemas sebagai identitas yang kuat.
“Jawa Barat itu seperti beberapa provinsi dalam satu wilayah. Bahasa dan kulinernya berbeda di tiap daerah. Ini adalah kekayaan yang harus terus diangkat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, juga disampaikan rencana penetapan 18 Mei sebagai Hari Jadi Sunda. Merujuk pada perubahan dari Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 669 M oleh Tarusbawa.
“Ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi bagaimana kita mengingat bahwa kita pernah memiliki peradaban besar dengan sistem yang baik,” tambahnya.
Ke depan, kegiatan Napak Tilas Pajajaran rencananya menjadi agenda tahunan. Pemerintah berharap, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan sejarah Sunda.
Tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, termasuk filosofi hidup yang menekankan harmoni dengan alam. (GaluhID/Tegar)
Editor: Evi
