Ciamis, galuh.id – Di balik tampilannya yang menyeramkan dengan topeng merah, hijau, dan hitam, mata melotot, serta taring panjang, Bebegig Sukamantri menyimpan nilai budaya yang dalam.
Sosok ini bukan hanya bagian dari atraksi seni, tapi juga simbol pelindung alam dan representasi kearifan lokal masyarakat Ciamis.
Bebegig berasal dari Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, dan dipercaya masyarakat sebagai penjaga dari niat buruk serta pelindung lingkungan.
Keyakinan ini berasal dari cerita turun-temurun yang berkaitan dengan Tawang Gantung, sebuah hutan keramat yang diyakini sebagai bekas kerajaan di utara Sukamantri.
Baca Juga: Ribuan Situs Diduga Cagar Budaya di Ciamis Sudah Tercatat Disbudpora
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis, Dadang Darmawan, menjelaskan bahwa Bebegig bukan hanya warisan budaya biasa.
“Bebegig adalah simbol lokal yang mewakili hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Ia mengajarkan kita pentingnya menjaga alam dan tradisi,” ujar Dadang, Kamis (17/4/2025).
Penampilan Bebegig sering menghiasi berbagai helaran, karnaval, dan pertunjukan besar di Ciamis. Kehadirannya mampu memikat perhatian, sekaligus menyampaikan pesan budaya kepada generasi muda.
Pada tahun 2018, Bebegig Sukamantri resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Penetapan ini menjadi pengakuan atas nilai budaya tinggi yang dimiliki tradisi tersebut.
Dadang juga menambahkan, pihaknya terus mendorong pelestarian tradisi ini melalui berbagai kegiatan budaya dan edukasi.
Baca Juga: Serap Aspirasi Pesantren, Heri Rafni Kotari Kunjungi Ponpes Darul Muawanah di Ciamis
“Kami juga ingin generasi muda Ciamis tidak hanya mengenal Bebegig, tapi juga bangga menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya makna ini,” tutupnya. (GaluhID/Tegar)
