CIAMIS, galuh.id – Pemerintah Kabupaten Ciamis mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada musim hujan 2026/2027. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan pada musim penghujan kali ini berpotensi meningkat hingga 20 persen dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemkab Ciamis, mengingat sejumlah wilayah memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana tanah longsor, pergerakan tanah, banjir, hingga luapan sungai.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, mengungkapkan bahwa terdapat dua zona prioritas pengawasan bencana hidrometeorologi yang perlu mendapatkan perhatian khusus selama musim penghujan.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pemkab Ciamis Bulan November 2026 di Aula Sekretariat Daerah Ciamis, Kamis (5/11/2026).
Andang menjelaskan, zona pertama berada di wilayah utara Kabupaten Ciamis yang didominasi kawasan perbukitan. Daerah tersebut memiliki potensi bencana tanah longsor dan pergerakan tanah, khususnya di Kecamatan Sadananya, Cihaurbeuti, Panawangan, dan Panjalu.
Sementara zona kedua berada di wilayah selatan yang merupakan kawasan dataran rendah. Wilayah ini berpotensi mengalami banjir dan luapan daerah aliran sungai (DAS), terutama di sekitar Sungai Citanduy dan Sungai Ciseel.
Adapun kecamatan yang menjadi perhatian meliputi Banjaranyar, Lakbok, Purwadadi, dan Pamarican.
“Wilayah utara memiliki potensi longsor dan pergerakan tanah, sedangkan wilayah selatan berpotensi mengalami banjir dan luapan sungai. Karena itu, seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sejak dini,” ujar Andang.
Untuk meminimalkan risiko bencana, Pemkab Ciamis mendorong masyarakat melakukan sejumlah langkah pencegahan di lingkungan masing-masing.
Di kawasan perbukitan dan lereng, masyarakat diminta lebih memperhatikan kondisi lingkungan yang berpotensi mengalami longsor, terutama apabila lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.
Selain itu, pemeliharaan dan pembersihan saluran air secara rutin juga menjadi perhatian. Saluran yang tersumbat dapat menyebabkan genangan hingga memicu banjir ketika intensitas hujan meningkat.
Masyarakat juga diimbau memeriksa kondisi pepohonan di sekitar jalan dan permukiman. Pohon yang berpotensi tumbang akibat hujan disertai angin kencang perlu segera ditangani untuk menghindari risiko terhadap keselamatan warga.
Tidak hanya masyarakat, Andang juga meminta para camat, lurah, dan kepala desa meningkatkan kesiapsiagaan serta pemantauan kondisi wilayah masing-masing.
Apabila terjadi bencana tanah longsor maupun banjir, pemerintah kewilayahan diminta segera berkoordinasi dan melaporkannya kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, yakni BPBD, Dinas PUPR, dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), agar penanganan dapat dilakukan secepatnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintah dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi ancaman bencana selama musim penghujan.
Melalui langkah antisipasi dan koordinasi lintas sektor tersebut, Pemkab Ciamis berharap potensi bencana hidrometeorologi dapat diantisipasi lebih awal sehingga risiko kerugian material maupun korban jiwa dapat diminimalkan.
