oleh

PSGC Ciamis Harus Belajar dari 49ers

 
 

Saur Anjeun, galuh.id- Saya memang bukan pecinta sepak bola. Hanya sekedar suka, dan itu biasa saja. Tidak pernah ingin tahu lebih jauh bagaimana komposisi dari sebuah tim sepak bola yang saya tonton. Misal, Persib Bandung atau Persatuan Sepak Bola Ciamis (PSGC).

Sekali lagi, hanya sekedar suka. Tapi pernah sengaja menonton Persib ke Stadion si Jalak Harupat dan Stadion Gede Bage. Hanya tiga kali. Di Stadion si Jalak Harupat sekali, di Stadion Gede Bage dua kali. Hanya ingin tahu suasana menonton Persib Bandung di stadion.

Kalau menonton PSGC, bisa dibilang sangat sering. Sebagai orang yang sudah lama tinggal di Kabupaten Ciamis, saya terbawa suasana untuk lebih memperhatikan PSGC ketimbang Persib. 

Saat ini PSGC sedang bermain di Liga 2 Indonesia. Selama bertanding di Liga 2 ini, saya tidak pernah tertinggal menonton langsung laga kandang mereka di Stadion Galuh.

Selama itu juga saya jarang sekali melihat PSGC menang. Di putaran pertama PSGC hanya menang dua kali. Pertama saat melawan PSPS dngan skor 3:1 dan kedua saat melawan Blitar United dengan skor 1:0.

Lalu di putaran kedua ini, dari lima pertandingan, PSGC hanya menang sekali. Pada saat melawan Babel United di Stadion Galuh Ciamis, Minggu (8/9/2019). 

Klasemen PSGC berada di papan paling bawah. Di zona degradasi. Dari data statistik, kekalahan PSGC ini memang luar biasa banyaknya. Sampai 12 kali. Padahal nggak ada tim di Liga 2 Indonesia yang sampai kalah belasan kali begitu. Lalu hasil imbangnya satu kali. Dan menang tiga kali. Jadi PSGC hanya mengantongi 10 poin.

Saya kesal. Saya bilang ini memang parah. Kalau tidak bisa menang di laga away, kenapa PSGC tidak bisa memanfaatkan pertandingan di kandangnya. Padahal bermain di kandang itu harusnya lebih semangat, lantaran ditonton ribuan pendukung.

Pelatih PSGC Ciamis, Andri Wijaya, beralasan kalau Laskar Galuh itu kurang konsentrasi. Setiap kelalahan diterimanya dengan sportif. Dan katanya setiap kekalahan dijadikan evaluasi bagi pertandingan ke depannya. Hanya saja masih banyak kalahnya.

Nah, berbicara konsentrasi. Ini ada hubungannya dengan pikiran. Mind Programing. Dikenal dalam istilah psikologi dengan nama Prejoctery Imaginery. 

Mengenai Mind Programming ini saya ingin bicara pengalaman 49ers (Fourty Niners). Klub olahraga asal Amerika, club American football. Sepak bolanya Amerika. Klub tersebut masuk ke dalam kelas medioker, atau tengah-tengah. 

Dalam 20 tahun, 49ers tidak punya prestasi apa pun. Terakhir masa jaya mereka adalah di tahun 90-an. Sudah lebih 5 kali berganti pelatih di klub tersebut selama 20 tahun. Tetap berada di papan tengah.

Sampai datang pelatih bernama Jim Hanbourgh. Di tahun pertama Jim melatih, 49ers langsung melejit masuk ke empat besar. Di tahun kedua, dia membawa 49ers ke babak final. Meskipun di final mereka gagal menang.

Apa sentuhan yang diberikan pelatih Jim Hanbourgh itu? Apa strateginya? Karena tidak banyak pemain yang dia ganti. Sistemnya pun tidak banyak diganti. Sedikit perubahan yang dia lakukan. Tapi ada game changing yang dia lakukan. Dia merubah yel dari klub tersebut.

Dan ternyata dengan merubah yel bisa merubah perilaku tim 49ers. Jim merubah mind programming. Ya project imaginery itu tadi. Yaitu dengan mengatakan kalimat yel-yelnya seperti ini: “Who’s got better than us?” atau terjemahannya, siapa yang lebih baik dari kita? 

Ketika Jim berteriak yel “Who’s got better than us?!” Maka seluruh tim dan bahkan seluruh penonton akan menjawab “No Body!”. 

Kalimat yel itu lah yang menyihir pemain dan penonton. Mereka menjadi lebih bersemangat. Lebih kuat. Lebih teliti saat di lapangan.

Jangan sampai ada pemain yang hilang konsentrasi. Jangan sampai ada peluang sedikit pun yang sia-sia. Bahkan kalau bisa jangan sampai lawan membuat peluang satu pun. Mereka tidak mau dikalahkan oleh siapa pun.

Pada akhirnya klub itu menjadi klub papan atas. Dari awalnya hanya klub papan tengah. Mereka hanya merubah yel-yel. Itulah kekuatan pikiran dan kekuatan kata-kata. 

Saya memang tidak tahu apa saja yang terjadi di manajemen PSGC atau kondisi pemainnya seperti apa. Yang saya lihat di lapangan, kualitas pemain PSGC secara individual sangat bagus. Tidak kalah hebat dengan pemain lawan. 

Bahkan jika berbicara kualitas pemain, ada mantan pemain belakang PSGC digaet oleh tim dari Liga 1. Berarti kan memang tidak ada kualitas pemain PSGC yang jelek.

Terus mengenai pelatih. Saya tidak bisa berbicara banyak. Yang jelas sudah beberapa kali PSGC ganti pelatih selama Liga 2 ini. Apa pelatih yang sekarang kurang bagus? Saya kira juga tidak. 

Nah, mungkin gak sih kekalahan-kekalahan yang dialami PSGC karena ada yang kurang membenamkan semangat dari yelnya? (galuh.id/Filters)

Penulis tinggal di Ciamis, tidak terlalu suka sepak bola. Tapi suka membaca dan menonton.

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA