Jenazah Irma (41) dan Tsyafiq (7), korban tsunami Banten sedang dikebumikan di Pawindan Ciamis, Senin (24/12/2018). Foto: Arul/galuh.id

Pawindan, galuh.id – Irma Komala (41) warga Dusun Ranca Utama, Desa Pawindan, Ciamis yang sedang berlibur bersama suami dan 3 orang anaknya ke Pantai Anyer, Banten menjadi korban tsunami Banten pada 23 Desember 2018 lalu.

Irma yang merupakan dokter spesialis radiologi bersama anak bungsunya, Tsyafiq (7) meninggal dunia. Jenazah keduanya sudah dikebumikan di Pawindan, Senin (24/12/2018). Belakangan diketahui, suami Irma, Iwan Kuswandani (42) yang sebelumnya belum diketahui keberadaannya kini sudah ditemukan dalam keadaan meninggal, jenazah Iwan rencananya akan dikebumikan di kampung halaman orang tuanya di Tasikmalaya.

Dari 3 anak Irma, anak pertamanya, Muhammad Nusyabani (13) dan Rahma Mutiara Sani (11) berhasil menyelamatkan diri dari terjangan tsunami di pantai Anyer, Banten yang diketahui terjadi karena aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Bani, demikian anak pertama korban biasa dipanggil mengatakan Ia yang sedang menuntut ilmu di salah satu pesantren di Kuningan dan adiknya Sani yang tinggal di Ciamis dijemput orang tuanya, Irma dan Iwan yang tinggal di Cilegon Banten untuk berlibur di Pantai Anyer, Banten.

Bani mengatakan keluarganya selesai makan malam di sebuah rumah makan dan sedang melihat pesta yang diadakan Kemenpora, ketika tiba-tiba ada ombak besar datang, Bani dan keluarganya berlari menjauhi pantai.

“Lagi liburan doang lagi ngelihatin orang pesta, tiba-tiba mati lampu, ada ombak, panik terus lari ke Bukit, ayah ibu kena air, saya nggak kena air,” kata Bani.

Bani kemudian terpisah dari keluarganya, Bani bertemu dengan adiknya Sani yang mengalami luka di bagian kaki di Posko, sementara kedua orang tuanya dan adik bungsunya diketahui tidak selamat dan menjadi korban tsunami Banten.

(Arul/K. Putu Latief)

loading...
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon masukan komentar anda!
Masukan nama anda disini