oleh

5 Hal yang Paling Dirindukan Perantau Dari Kota Ciamis

 
 

Ciamis, galuh.id – Kota Ciamis adalah kota leutik camperenik yang terletak di daerah Priangan Timur, Jawa Barat. Kota yang damai ini tentunya memiliki posisi paling penting di hati para penduduknya. Terutama bagi mereka yang terlanjur memilih untuk menjauh pergi dari kota kelahiran. Merantau ke negeri orang dengan berbagai alasan. Dari mulai alasan kebutuhan ekonomi, tuntutan pendidikan, alasan tugas pekerjaan, maupun karena terpaksa diboyong pasangan setelah menikah.

Bagi para perantau, rasa rindu pasti selalu tidak bisa dienyahkan dari dalam benak. Apalagi sengat aroma lebaran sudah sangat wangi tercium. Tradisi mudik tentunya dipilih oleh para perantau untuk mengobati kerinduan yang sudah meradang selama berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya.

Mudik kali ini pasti banyak rencana yang sudah tersusun sedemikian rupa oleh para perantau untuk melepaskan rasa rindunya di kampung halaman selama masa mudik. Sebelum akhirnya mereka kembali ke tempat merantau mereka masing-masing.

Selain kerinduan kepada ayah dan ibu, keluarga besar, masakan ibu, suasana rumah dan kamar masa kecil, tentunya ada banyak hal yang dirindukan perantau dari kota Ciamis. Lalu, apa sebenarnya hal yang paling dirindukan para perantau dari Kota Ciamis? Yuk, kita cari tahu di sini. Barangkali kamu yang sedang merantau atau membayangkan menjadi perantau pun akan merasakan yang sama.

Setidaknya ada lima hal yang paling dirindukan para perantau dari kota Ciamis.

1. Alun-alun Ciamis

Ada yang mengatakan, bahwa jika ingin tahu seberapa banyak warga Ciamis, maka lihat saja hari Minggu pagi di Alun-alun Ciamis. Lelucon itu memang tidak bisa disalahkan. Karena Minggu pagi terutama, warga Ciamis tumpah ruah di Alun-alun dari berbagai kalangan, berbagai rentang usia, dan dengan berbagai kepentingan.

Dari banyaknya kunjungan warga ke Alun-alun pada Minggu pagi terutama, itu menunjukkan bahwa Alun-alun Ciamis memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi warga Ciamis.

Seorang perantau asal Panawangan yang telah begitu lama meninggalkan Ciamis dan menetap tinggal di Bekasi, mengatakan bahwa yang paling ia rindukan dari Ciamis adalah Alun-alunnya. Dimana di sana begitu banyak kenangan yang tidak terlupakan.

Perantau lainnya, mengatakan bahwa Alun-alun adalah tempat paling asik untuk mengasuh buah hati, karena Alun-alun adalah tempat ngasuh paling membuat anteng budak. Sambil ngasuh, orang tuanya pun anteng melamun mengingat masa muda ketika masih sekolah di SMK. Alun-alun adalah tempat olahraga di Minggu pagi, sekaligus tempat ngeceng. Siapa tahu bisa ketemu gebatan atau dapat kenalan baru. Ada yang merasakan hal yang sama?

Oh iya, ada yang senang dengan Deldom? Ternyata Delman Domba ini adalah hal yang membuat Alun-alum tidak mudah dilupakan, karena kendaraan ini tidak pernah ditemukan di tempat yang lain.  

2. Suhu Kota yang Sejuk

Alasan ini adalah alasan terbanyak dari para perantau yang berhasil diwawancarai tentang kerinduannya pada Ciamis. Kota Ciamis merupakan kota paling damai. Tempat ternyaman untuk beristirahat.

Seseorang yang telah lama menetap di Kota Jakarta mengatakan bahwa hiruk pikuk di sana selalu berhasil membuat ia meneteskan air mata karena merindukan kedamaian kota Ciamis. Perasaan ingin segera pulang pun menyerang, hanya apa daya harus tetap bertahan demi sebuah pekerjaan.

Bagi para perantau, Ciamis adalah kota yang sejuk dan damai. Seperti peribahasa tinggal di Ciamis itu ‘tiis ceuli herang panon’. Tak ada hal yang membuat marah, atau pun membuat emosi terpancing dengan berlebihan. Adem ayem tingtrim ati, setiap hari adalah damai, setiap waktu selalu membuat betah tinggal.

Namun alasan ini pun yang menyebabkan para perantau memilih untuk menjauh dari kota kelahirannya. Terutama bagi mereka yang sering diserang penyakit malas. Kota Ciamis belum berhasil mereka menjadi sosok pekerja keras. Bisa dibilang Ciamis masih minim tantangan. Hampir semua yang menjadi kebutuhan pokok tersedia di sini.

Beras ada dari sawah sendiri. Lalap sayur tinggal memetic dari kebun sendiri. Buah-buahan lokal banyak tersedia di pekarangan. Kalaupun tidak memiliki semuanya, selalu ada tetangga yang berbaik hati membagi semuanya kepada kita.

Bagi perantau, Ciamis sementara ini masih menjadi kota tujuan peristirahatan dari hiruk pikuk dan hingar bingar kota. Bisa dibilang, perantau bagai makan buah simalakama. Ketika jauh merindu ingin segera kembali ke kampung halaman, tetapi ketika sengaja pulang, lapangan pekerjaan belum tersedia untuk profesi-profesi tertentu.

Para perantau berharap, semoga kota ini semakin maju dan mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang menjanjikan sehingga para pemuda lebih tertantang bersaing di kota sendiri.

3. Makanan Khas

Alasan kerinduan yang berikutnya adalah makanan khas. Beberapa perantau yang diwawancai menyebutkan bahwa ada makanan-makanan Ciamis yang tidak ditemukan di daerah lain. Di antaranya adalah Citruk, Opak, Colok Gembrung, Ayam Goreng Ciamis, Adas Merah Putih, dan Kupat Panawangan.

Orang Ciamis terkenal sebagai orang yang apapun bisa dijadikan makanan. Termasuk citruk, ini masih jarang ditemukan di daerah lain.

Opak, walaupun ada banyak ditemukan di daerah lain, mungkin bagi para perantau, rasa opak yang dihasilkan oleh pengrajin makanan Khas Ciamis itu begitu berbeda sehingga tidak bisa digantikan dengan opak yang lain.

“Tiap mudik ke Ciamis, pasti harus membeli Kupat Panawangan. Saya yakin, tidak ada kupat yang kenyal dan enaknya seperti kupat panawangan di manapun,” ujar perantau asal Ciamis yang sudah puluhan tahun tinggal di Cianjur karena alasan penempatan kerja.

4. Keramahan Warga

Keramahan warga Ciamis adalah alasan berikutnya yang menjadi penyebab kerinduan yang laur biasa di hati para perantau. Ketika di tempat lain bahasa Sunda mulai terkikis, maka di Ciamis kita masih menemukan orang Sunda asli. Dengan keramahan dan kelembutan bahasa yang tetap terjaga, membuat nuansa kerukunan warganya tetap melekat.

Kebaikan tetangga ketika perantau pulang, menyambut hangat bagaikan saudara asli. Padahal hanya sebatas tetangga dekat. Hal inilah yang paling memberi kesan di hati para perantau. Ketika hajatan, masih berkirim bahan makanan, dan berbagi rejeki, saling membantu. Belum lagi, budaya gotong royong di Ciamis masih terbilang sangat tinggi.

Di tempat perantauan hal itu tidak ditemukan lagi. Kalau pun ada, sudah brang tentu akan terasa sangat berbeda karena Ciamis adalah tempat para perantau dibesarkan dan diasuh oleh tetangga-tetangga yang baik hatinya.

5. Teman Masa Kecil

Teman masa kecil adalah alasan berikutnya yang kerap membuat perantau rindu kampung halaman. Teman yang selalu main bersama sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Sekolah Menengah sampai akhirnya terpaksa terpisah karena memilih merantau untuk melanjutkan pendidikan di kota lan.

Abdimah sok sono pisan ka rencangan ameng semasa SMP pami nuju tebih ti lembur teh. Hoyong ngaliwet deui, sok rame,” ujar Andra, seorang warga Munjul Buniseuri yang berprofesi sebagai MC. Ia pernah menjadi perantau dalam waktu lama di kota Bandung.

Itulah alasan-alasan para perantau mengapa begitu merindukan Ciamis sebagai kota kelahirannya. Bagaimana dengan kalian? Selamat berpuasa dan menunggu waktu mudik untuk melapas rindu di kota Ciamis tercinta. (galuh.id/Diantika)

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA