CIAMIS, galuh.id – Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) DPD Kabupaten Ciamis menggelar kegiatan halal bihalal yang dirangkaikan dengan berbagai agenda edukatif, diskusi, hingga hiburan di Bank Sampah Induk Ciamis, Sabtu (11/04/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kapasitas para pengelola bank sampah di daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pembina ASOBSI DPD Ciamis yang juga Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, Dr. Giyatno, serta Kepala Bidang Kebersihan, Persampahan, dan Pertamanan (KPP) DPRKPLH Ciamis, Irwan Efendi.
Dalam sambutannya, Giyatno menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang dinilai mampu memperkuat kolaborasi sekaligus meningkatkan kapasitas pengelola bank sampah.
“Ini kegiatan yang sangat positif, karena selain mempererat silaturahmi, juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan peningkatan kapasitas pengelola bank sampah,” ujarnya.
Ia menegaskan, DPRKPLH akan terus mendukung pengembangan bank sampah melalui pembinaan berkelanjutan dan penguatan sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan masyarakat.
“Kami berharap bank sampah di Ciamis semakin aktif dan berkembang. Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya dan membutuhkan peran serta semua pihak,” katanya.
Sementara itu, Ketua ASOBSI DPD Ciamis, Sri Devi Mulyanti, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan program rutin komunitas yang diinisiasi secara mandiri sebagai ruang konsolidasi antar pengelola bank sampah.
“Ini bukan sekadar halal bihalal, tetapi juga wadah penguatan jaringan. Kami ingin para pengelola bisa saling bertukar pengalaman, berbagi informasi, dan menumbuhkan semangat bersama,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 308 bank sampah di Kabupaten Ciamis, meskipun belum seluruhnya aktif. Dari jumlah tersebut, sekitar 188 nasabah tercatat aktif menabung sampah di Bank Sampah Induk Ciamis.
Namun demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, di antaranya keterbatasan sumber daya manusia (SDM), pengelolaan yang belum konsisten, serta minimnya sarana dan prasarana seperti lahan dan gudang penyimpanan.
“Karena ini gerakan berbasis relawan, banyak pengelola yang memiliki keterbatasan waktu sehingga terjadi pergantian pengurus. Selain itu, sebagian besar bank sampah belum memiliki fasilitas yang memadai,” jelasnya.
Devi juga menyoroti masih adanya desa yang belum memberikan dukungan optimal, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.
“Padahal, jika didukung semua pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah desa dan kabupaten, bank sampah bisa berkembang lebih pesat dan berdampak luas,” tambahnya.
Kegiatan halal bihalal tersebut dikemas secara interaktif dan partisipatif. Selain diskusi dan sharing session terkait praktik terbaik pengelolaan bank sampah, peserta juga mengikuti berbagai kegiatan menarik seperti tukar kado, games, hingga edukasi thrifting dalam konsep sustainable fashion.
Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan eco enzyme untuk pertanian sebagai inovasi dalam pengolahan sampah organik.
Suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan “festival kakaren”, di mana setiap peserta membawa makanan untuk dinikmati bersama.
Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara swadaya sebagai bentuk kemandirian komunitas.
“Konsepnya dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Ini bukti bahwa gerakan ini bisa berjalan dengan semangat gotong royong,” pungkasnya. (GaluhID/Tegar)
