oleh

Dewan Kebudayaan Kota Banjar Gelar Karya Akulturasi Budaya

 
 

Kota Banjar, galuh.id – Dewan Kebudayaan Kota Banjar (DKKB) berhasil mempertemukan dua budaya yang berbeda yang selama ini hidup berdampingan dalam satu kerangka daerah.

Adalah Sunda dan Jawa. Kedua budaya tersebut dipertemukan dalam sebuah tajuk pertunjukan Gelar Karya Budaya yang mengusung tema “Akulturasi Budaya Perbatasan Sunda-Jawa” yang digelar di areal persawahan, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kita Banjar, Jawa Barat, Sabtu (09/11/2019) malam.

Wakil Ketua DKKB, Syarif Hidayat, menerangkan penyatuan dua budaya ini sudah masuk pada 7 Agenda Strategi Kebudayaan Kota Banjar sebagai pedoman kinerja DKKB.

Menurutnya, sebagai wilayah dengan nilai keunikan tersendiri Banjar harus memiliki budaya yang menjunjung tinggi nilai perdamaian.

Selama ini terjadi dogma di masyarakat, bahwa Sunda dan Jawa tidak dapat dipersatukan akibat ada dendam lama yang tak kunjung sembuh, yaitu dampak peristiwa perang bubat antara Galuh dan Majapahit.

Namun, di Banjar sendiri dogma konflik itu tidak ada. Masyarakat Sunda-Jawa semua berbaur menyatu dan menghasilkan budaya yang baru telah terjadi sejak lama.

“Kita mencoba melakukan rekonstruksi perdamaian abadi yang terjadi di Kota Banjar. Dengan cara menghadirkan tokoh budaya dari Sunda dan Jawa untuk berkomitmen perdamaian abadi di Kota Banjar,” ungkap dia.

Lebih lanjut Syarif menegaskan secara geografis Banjar merupakan daerah perbatasan dua provinsi. Secara antropologi pun hidup dalam akulturasi budaya. Maka, perlu kiranya kami DKKB mendorong terciptanya ekosistem dan iklim kebudayaan yang mengakomodir dua budaya tersebut.

“Melalui gelar karya budaya ini misi yang kita ingin sampaikan Jabar juara dalam budayanya. Dengan adanya akulturasi budaya ini merupakan nilai luhung yang harus terus ditanamkan semua lapisan masyarakat,” imbuhnya. (GaluhID/Dede)

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA