Sabtu, 27 Februari 2021
Sabtu, 27 Februari 2021
 
 

Ide Penghapusan Pelajaran Agama di Sekolah, HMPI: Pemerintah Harus Tolak

Berita Nasional, galuh.id– Pernyataan Setyono Djuandi Darmono, praktisi pendidikan tentang penghapusan pelajaran agama di sekolah mendapat kritikan dari Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI) Bidang Keagamaan, Fadhly Azhar. Fadhly Azhar berharap pemerintah menolak usulan tersebut. Lantaran usulan tersebut dinilai Fadhly tidak ramah untuk masyarakat awam yang kurang paham.

“Sesungguhnya Pendidikan Agama tersebut jangan dijadikan alasan terjadinya anti kohesi sosial dalam menguatnya radikalisasi-sektarian di ruang publik virtual, maupun kehidupan sehari-hari,” tegas Fadhly Azhar, yang juga dikenal sebagai Ketua Bidang Kajian Strategis GNKRI (Gerakan Nasionalis Kebangsaan Rakyat Indonesia), dalam acara Workshop Kompetensi Pendidik Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah di MG Setos Semarang, Jum’at (5/7/2019) lalu.

Sekretaris Yayasan Institut Parahikmah ini juga mengatakan hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam fenomena penguatan superioritas golongan adalah perangkat tenaga pendidik, standar isi dan struktur kurikulum yang dinilainya sangat radikalis-sektarian.

“Makanya, perlu ada standar kompetensi moderasi agama dalam penentuan perangkat tenaga pendidik, standar isi bahkan struktur kurikulumnya, agar menciptakan instrumentalisasi pendidikan agama yang tobat golongan alias moderat,” katanya.

Fadhly juga menegaskan Pendidikan Agama merupakan medium paling kuat dalam pembentukan Kearifan dan Hikmat Kebijaksanaan dalam proses berbangsa, bernegara dalam kehidupan kewarganegaraan. Karena itu, kata dia tak perlu ada penghapusan pelajaran agama di sekolah.

“Sementara bagi masyarakat yang tidak terlalu memahami agama, bukanlah suatu entitas yang  kacau bahkan justru solid sebagai medium internalisasi kebijaksanaan dan kearifan, karena itu tidak perlu menghakimi agama sebagai biang terhadap munculnya anti kohesi sosial,” tegasnya.

Fadhly memberi contoh fenomena di Iran, dimana Wilayatul Faqih justru menjadi spirit agama dalam pembentukan kebijaksanaan dan kearifan, hingga muncul Falsafatuna dan Iqtishaduna.

“Kalau Einstein mengatakan agama tanpa ilmu adalah lumpuh, sedangkan ilmu tanpa agama adalah buta, maka saya perlu menambahkan bahwa ilmu dan agama tanpa hikmah adalah sekedar ornament. Karena itu, setiap pendidikan agama harus memiliki spirit kebijaksanaan dalam penyusunan pembentukan perangkat dan penyusunan instrumentalisasinya,” pungkasnya. (galuh.id/Ndu)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terkait

Bupati dan Wakil Bupati Ciamis Positif Covid-19

Berita Ciamis, galuh.id - Bupati dan Wakil Bupati Ciamis positif Covid-19, keduanya memberikan pernyataan resmi melalui chanel youtube Diskominfo Ciamis. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya dan...

Kades Cibadak Ciamis Klarifikasi Penutupan Kantor Desa

Berita Ciamis, galuh.id - Kepala Desa atau Kades Cibadak Banjarsari Ciamis, Margo Suwono, mengklarifikasi terkait penutupan sementara pelayanan masyarakat di desanya. ”Itu hanya salah nulis...

8 Tahanan Kejari di Lapas Ciamis Positif Covid-19

Berita Ciamis, galuh.id - Sebanyak 8 tahanan kejari di Lapas Ciamis terkonfirmasin positif Covid-19. Tim satgas langsung menjemput para tahanan untuk isolasi. Kasi Administrasi Kamtib...

Temukan Kami

47,935FansSuka
219PengikutMengikuti
2,760PelangganBerlangganan

Artikel Lainnya