oleh

Perjuangan Wewey Wita, Atlet Pencak Silat Ciamis yang Meraih Emas di Asian Games 2018

 
 

Galuh ID- Sebelum meraih medali emas di Asian Games 2018, Wewey Wita, atlet pencak silat yang memulai karirnya di Ciamis ini mengalami berbagai macam ujian yang tidak membuatnya menyerah. Wewey yang awalnya belajar silat karena ingin melindungi teman-teman wanitanya yang diganggu itu pada akhirnya berkorban banyak hal untuk melindungi keluarganya.

Wewey bercerita tentang ayahnya yang bernama asli Yeo Meng Tong, pria berkebangsaan Singapura ini menggeluti bisnis kayu sebelum akhirnya ditipu oleh temannya hingga bangkrut. Ketika ayahnya tak mampu lagi membiayai kehidupan di kota besar, Wewey bersama keluarganya terpaksa pindah ke Ciamis, tempat kelahiran ibu Wewey.

Loading...

Di Ciamis, Wewey bersama keluarganya tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Ayahnya berusaha menghidupi mereka dengan berbagai macam usaha dari mulai jualan bakso hingga berjualan barang-barang kelontong. Usaha ayah Wewey berkali-kali jatuh, berkali-kali pula bangkit kembali.

Terkadang uang yang dihasilkan ayahnya tak mampu untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka. Bahkan, listrik di rumah kontrakan mereka pernah diputus karena menunggak tagihan terlalu lama. Terpaksa Wewey menumpang di rumah tetangga mereka untuk mengecas HP ayahnya, alat komunikasi satu-satunya yang mereka miliki untuk kegiatan usaha sang ayah. Saat itulah Wewey terpaksa menerima hinaan, kalimat seperti “memang listrik punya nenek moyang lu!” tak pernah dilupakan Wewey.

Wewey yang banyak bergaul dengan anak laki-laki ini mahir bermain gundu dan kartu. Jika menang, gundu dan kartu tersebut dijual kembali dan uangnya diserahkan ke ibunya untuk membantu kebutuhan mereka. Selain itu kadang Wewey mengumpulkan uang dari snack jajanan berhadiah uang Rp.5000 jika Wewey beruntung. Sebelum membeli snack, Wewey mengocok dan menimbang satu persatu snack yang mau dibelinya, kalau cocok dia beli, kalau tidak Wewey akan berlalu meninggalkan warung langganannya disertai gerutuan si pemilik warung yang kesal barang dagangannya diacak-acak tetapi tidak jadi dibeli.

Wewey bersekolah di SDN 1 Sindangrasa, Ciamis. Sejak kecil Wewey sudah aktif mengikuti berbagai ekstrakurikuler olahraga, mulai dari basket, bola voli, atletik hingga karate. Walaupun begitu, ibu Wewey berusaha membuatnya lebih feminim dengan mengikutkannya pada Lomba Peragaan Busana di Radio Pitaloka FM, Ciamis, Wewey meraih juara kedua saat itu.

Kelas 4 SD guru olahraga Wewey mendaftarkan Wewey di Kejuaraan Pencak Silat, berbekal latihan selama 2 hari yang diisi dengan etiket masuk gelanggang, salam kepada wasit dan hal-hal sepele lainnya, Wewey menang dengan skor 3-2 tetapi ia gagal  menjadi juara umum. Tetapi berbekal tendangan-tendangan ala karate, Wewey terpilih sebagai salah satu atlet terbaik pada kejuaraan tersebut. Hal ini menjadi modal baginya untuk lebih serius menggeluti olahraga pencak silat.

Sejak saat itu dimulailah petualangan Wewey di berbagai kejuaraan pelajar, mulai dari Popwilda, Popda, hingga Popnas. Usia Wewey 14 tahun saat ia membela tim Porda Kabupaten Ciamis, yang menarik Wewey diikutsertakan pada pertandingan pencak silat untuk usia 17-35 tahun. Wewey sukses meraih medali emas dan mendapat uang bonus 10 juta rupiah walaupun yang diterimanya hanya 7,5 juta rupiah. Tetapi, hal itu tidak dipermasalahkan oleh Wewey karena baginya yang masih duduk di bangku SMP, uang 7,5 juta rupiah itu cukup besar.

Baca juga: Kisah Pesilat Asian Games yang Pernah Belajar di Ciamis

Wewey akhirnya pindah ke Bandung dan lebih serius menggeluti pencak silat, dikumpulkannya uang saku dan bonus dari berbagai pertandingan yang dia ikuti untuk kemudian dikirim ke Ciamis untuk membantu kebutuhan orang tua dan kelima adiknya.

“Kalau dipikir-pikir karena setiap tahun Wewey selalu mengikuti pertandingan baik kejuaraan daerah, provinsi maupun nasional dari tahun 2006 jadi latihan terus sampai sekarang, sudah 15 tahun Wewey bertarung,” ujar Wewey ketika diwawancara Galuh ID sebelum gelaran Asian Games dimulai.

Pada pertandingan partai final pencak silat Asian Games 2018 kelas B putri 50 kg – 55 kg di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta pada Rabu (29/08/2018) Wewey meraih medali emas mengalahkan atlet Vietnam, Them Thi Tran dengan skor telak 5-0. Medali emas yang diraih Wewey merupakan medali emas ke-30 untuk Indonesia.

Wewey melalui Galuh ID mengucapkan terima kasih pada Hendrik Pangemanan, pelatih pencak silat pertama Wewey ketika di Ciamis.

“Dulu pertama ikut silat Wewey dilatih kang Hendrik, setelah itu lamanya di PPLP dilatih oleh Ibu Lesmana sampai Pelatnas sekarang,” ujar Wewey.

Sementara itu Hendar Suhendar, ketua IPSI Pangandaran yang pernah aktif pula di IPSI kabupaten Ciamis mengapresiasi konsistensi Wewey dalam menekuni pencak silat sehingga Wewey sukses meraih medali emas di Asian Games 2018.

“Ciamis melalui IPSI melahirkan seorang Wewey melalui proses panjang, dari tahun 1993 pertama kali IPSI Ciamis hidup lagi,” ungkapnya.

Menurut Hendar, IPSI Ciamis konsisten tidak mencari atlet dari luar daerah, tapi melakukan pembinaan putra daerah dan prosesnya baru bisa mewujudkan seorang Wewey setelah 4 periode kepungurusan kurang lebih 15 tahun kemudian.

Selamat Wewey, terima kasih atas inspirasinya. Semoga lahir atlet-atlet  pencak silat dari Ciamis yang konsisten dan mengikuti jejak Wewey.

(K. Putu Latief)

Catatan: Cerita di awal artikel ini diceritakan Wewey dalam opininya untuk Tirto ID, diceritakan ulang di Galuh ID dengan izin Wewey.

loading...

Penulis : K Putu Latief

Gambar Gravatar
Menulis untuk kepuasan, mengedit untuk kebahagiaan.

Komentar

BERITA SELANJUTNYA