Jumat, 22 Januari 2021
Jumat, 22 Januari 2021
 
 

Derby Mataram: Tendangan Kungfu, Rusuh Suporter Hingga Gubernur DIY dan Pelatih PSIM Angkat Bicara

Info Liga 2, galuh.id โ€“ Kerusuhan yang terjadi pada pertandingan derby Mataram PSIM Jogja melawan Persis Solo di Stadion Mandala Krida Yogyakarta Senin (21/10/2019) menuai berbagai reaksi dari semua kalangan.

Salah satunya datang dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sultan mengutuk keras insiden tersebut.

Sri Sultan Hamengkubuwono X mengaku kesal dan bingung dengan aksi beringas yang dipertontonkan warga Yogyakarta pada laga tersebut.

Lebih lanjut, Gubernur DIY menyinggung tidak akan ada sepak bola di Jogja jika hanya menimbulkan tontonan kekerasan. Kekerasan yang dipertontonkan dianggap akan membangun orang yang tidak beradab.

Rusuh derbi Mataram dipicu salah satu pemain PSIM, Achmad Hisyam Tolle yang melakukan aksi tak terpuji terhadap pemain Persis Solo.

Kala itu Ahmad Hisyam Tolle sebenarnya sudah mendapat kartu merah dan keluar dari lapangan. Namun, Ahmad Hisyam Tolle tiba-tiba saja melakukan tendangan kungfu kepada seorang pemain Persis Solo.

Selain Gubernur DIY, Pelatih kepala PSIM Jogja, angkat bicara terkait aksi brutal Achmad Hisyam Tolle.

Liestiadi menilai tindakan tersebut jelas tidak bagus dilakukan di lapangan. Para pemain seharunya bisa menjadi contoh yang baik bagi para penonton yang hadir.

“Tindakan seperti ini kan tidak bagus, sama halnya pemain edukasi suporter untuk bertindak brutal. Karena penonton itu diedukasi dari pertandingan, penonton diedukasi dari sikap pemain,” kata Liestiadi dikutip Galuh ID dari berbagai sumber.

Liestiadi juga menambahkan, seharusnya pemain lebih profesional dan bisa mengontrol emosi dan menjaga attitude dengan baik. Hal ini sebagai cerminan untuk mengedukasi para penonton yang datang langsung ke stadion.

“Suporter kita kan dari macam-macam kalangan yang berbeda. Ada penonton yang datang untuk benar-benar menikmati permainan sepak bola, ada yang datang seperti mau macam perang. Nah kita edukasi melalui pertandingan yang menarik dan enak ditonton, dan menunjukkan fighting spirit yang luar biasa,” ujar Liestiadi.

Menurutnya, pertandingan sepak bola seharusnya bisa menjadi pemersatu bangsa dari segala kalangan bukan sebagai pemecah belah.

“Marilah, sepak bola sebagai pemersatu bangsa. Sepak bola ini kan bisnis hiburan, kita sama-sama cari makan di sini,” ucap Liestiadi. (GaluhID/AR7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Loading...

Artikel Terkait

Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 Resmi Dibatalkan PSSI

Berita Olahraga, galuh.id - Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 akhirnya resmi dibatalkan oleh PSSI selaku induk sepak bola di Indonesia. Keputusan pembatalan kompetisi tersebut...

Liga 2: Meski Bertabur Bintang, PSMS Medan Kesulitan Finansial

Info Liga 2, galuh.id - Liga 2 Indonesia belum bisa dipastikan apakah tetap lanjut atau diberhentikan untuk musim 2020 ini. Banyak klub yang mengalami...

Sulut United Respon Positif Liga 2 Dilanjutkan Bulan November

Info Liga 2, galuh.id - Sulut United respon positif dengan keputusan untuk kompetisi Liga 2 dilanjutkan pada November sampai Desember nanti sudah cukup ideal. Sebab...

Temukan Kami

48,124FansSuka
219PengikutMengikuti
2,760PelangganBerlangganan

Artikel Lainnya