oleh

Siap Datang ke Ciamis, Babe Saidi: Masalahnya Siapa yang Mau Bayarin?

Hubungi
 
 

Berita Ciamis, galuh.id – Reaksi masyarakat Kabupaten Ciamis kian memanas pasca viralnya pernyataan kontroversi Babe Saidi di kanal video Youtube. Dia yang menyebut tidak adanya Kerajaan Galuh di Ciamis.

Pernyataannya Babe Saidi, sapaan akrabnya, dinilai telah menyinggung perasaan seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Ciamis.

Loading...

Saat diwawancara melalui sambungan telepon, Babe Saidi pun keukeuh dengan pemikirannya bahwa Kerajaan Galuh itu tidak ada.

“Bukti-buktinya itu kan tidak meyakinkan, nama Galuh sendiri berasal dari Armenia yang artinya negatif, tidak usah lah saya sebutkan artinya. Masa sebuah kerajaan dinamai dengan arti yang negatif,” terang Babe.

Menurut dia, ada atau tidaknya sebuah kerajaan itu dilihat dari indikator ekonominya. Darimana pendapatan kerajaan itu untuk membiayai kehidupannya.

Baca Juga : Memanas: Reaksi Masyarakat Ciamis Selatan, Kutuk Keras Sikap Babe Saidi

Indikator ekonomi terdiri dari beberapa faktor. Diantaranya, kerajaan memiliki tambang emas. Faktor lainnya mempunyai pelabuhan komersil sebagai penunjang ekonomi kerajaan.

“Ciamis kan tidak punya tambang emas dan pelabuhan komersil, kalau tidak ada penghasilan, bagaimana untuk menghidupi kerajaan,” katanya.

Menurut dasar pemikirannya, Sunda Pakuan itu kavelarinya empat ribu ekor kuda, bagaimana cara membiayainya kalau tidak punya emas, tidak ada income.

“Kalau Ciamis cuma punya keris-keris, bagaimana caranya membuktikan bahwa kerajaan Galuh itu ada,” ujarnya.

Babe Saidi : Situs Karangkamulyan Tidak Bisa Jadi Bukti Adanya Sejarah

Terkait situs yang ada di Karangkamulyan pun menurutnya tidak bisa menjadi bukti adanya kerajaan. Karangkamulyan kata Babe berarti tempat yang terhormat, sedangkan Astana Gede itu artinya Pusat Kota Baru.

Ketimbang berbicara masalah kerajaan yang sulit dibuktikan, Ridwan Saidi alih-alih menyarankan Ciamis agar fokus pada stone monumen yang ada di Kecamatan Lumbung.

“Batu Susun Rompe di Lumbung itu adalah Stone Monument Paraiangan yang berasal dari abad ke V masehi, disitu membuktikan bahwa persawahan/pertanian Ciamis pada abad ke V itu sudah maju dan berkembang. Fokus saja ke sana daripada soal kerajaan,” ujar Babe.

Kemudian saat disinggung mengenai permintaan masyarakat Ciamis agar Ridwan Saidi datang ke Ciamis, dia mengaku siap jika diundang secara resmi ke Ciamis.

“Masalahnya, siapa yang mau bayarin? Masa harus ongkos sendiri, di Ciamis kan ada bupatinya yang berkepentingan, undang saya, dan saya akan atur waktunya,” tukas Ridwan Saidi, melalui telepon, Kamis (13/02/2020). (GaluhID/Evi)

loading...

Komentar

BERITA SELANJUTNYA