Pangandaran, galuh.id – Di Dusun Bojongjati, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, tersembunyi jejak harta bersejarah berupa bangunan stasiun yang kini tampak memudar.
Bangunan tua eks stasiun kereta api Pangandaran yang pernah menjadi pusat kegiatan transportasi pada masa kejayaannya, kini hanya menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Dengan dinding berlumur coretan dan atap yang telah merosot termakan usia, bangunan ini menghadirkan ironi. Sebuah peninggalan sejarah yang terlupakan di tengah geliat modernisasi.
Bagi warga lokal, keberadaan stasiun ini lebih dari sekadar bangunan.
“Kondisi bangunan yang memprihatinkan ini memerlukan langkah konservasi agar nilai sejarahnya tidak hilang seiring waktu,” ungkap Amin, warga Pangandaran, Jumat (25/4/2025).
Menurutnya, pelestarian stasiun akan memberikan manfaat besar. Tidak hanya dari aspek budaya, tetapi juga secara ekonomi khususnya untuk pengembangan wisata sejarah di kawasan tersebut.
Meski terlihat kokoh di beberapa bagian, bangunan eks-stasiun ini menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Bagian atap yang berlubang dan dinding yang mulai retak menjadi simbol fisik dari ketidakpedulian.
Di halaman depan stasiun, aktivitas warga mencerminkan pemanfaatan ruang yang kurang terarah.
Gerobak pedagang, rumput liar yang menjulang, hingga tumpukan sampah dan kendaraan yang diparkir seolah menjadikannya tempat rongsokan.
Potensi bangunan ini untuk menjadi destinasi wisata sejarah sangatlah besar.
Dengan renovasi dan perhatian khusus dari pemerintah maupun masyarakat, Stasiun KA Pangandaran dapat kembali hidup sebagai monumen yang menceritakan masa lampau bersejarah dan menginspirasi generasi mendatang. (GaluhID/Diana)
Editor: Evi
